Sinergi Pemkot Yogya dan HIPMI, Sulap Rumah Warga di Sudut Malioboro Jadi Penginapan 'Backpacker'
Proyek tersebut merupakan aktualisasi dari nota kesepahaman (MoU) antara BPC Hipmi dengan Pemkot Yogyakarta.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berkolaborasi dengan BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Yogyakarta merealisasikan konsep sosiopreneur.
- Hostel Fun Malioboro hadir di balik gang-gang sempit kawasan Suryatmajan, persis di bantaran Kali Code, Kota Yogyakarta
- Dibanderol dengan harga terjangkau Rp75.000 per malam, Hostel Fun Malioboro memang menyasar ceruk pasar wisatawan menengah ke bawah atau backpacker.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Riuh rendah kawasan Malioboro sebagai jantung pariwisata Yogyakarta kini tak lagi hanya menjadi milik hotel-hotel berbintang atau penginapan komersial skala besar.
Di balik gang-gang sempit kawasan Suryatmajan, persis di bantaran Kali Code, sebuah pergerakan ekonomi kerakyatan mulai berdenyut lewat hadirnya Hostel Fun Malioboro.
Bukan sekadar penginapan murah, hostel ini menjadi bukti kolaborasi antara Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dengan BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Yogyakarta dalam merealisasikan konsep sosiopreneur.
Wajah kawasan tepi sungai pun turut bersolek. Tidak lagi sekadar pemukiman padat, namun bertransformasi jadi ruang inap yang ramah di kantong dan di hati warga setempat.
Ketua BPC HIPMI Kota Yogyakarta, Syaiful Uyun, mengungkapkan, proyek tersebut merupakan aktualisasi dari nota kesepahaman (MoU) dengan Pemkot Yogyakarta.
Menariknya, aset-aset yang digunakan untuk jasa akomodasi sepenuhnya adalah milik warga masyarakat setempat.
Alhasil, di sana sama sekali tidak ada alih kepemilikan lahan.
"Kami memanfaatkan database Pemkot. Konsepnya sosiopreneur. Pemilik (rumah) punya nilai lebih, karena kita kembangkan asetnyaya sedemikian rupa agar melahirkan nilai ekonomi tanpa menghilangkan hak kepemilikan," ujarnya, di sela peluncuran Hostel Fun Malioboro, Selasa (10/3/2026) petang.
Sistem Transparan
Sistem yang ditawarkan pun terbilang transparan, di mana HIPMI menggandeng investor internal untuk pendanaan renovasi, sementara operasionalnya dikelola bersama.
Selanjutnya warga pemilik rumah bisa memantau tingkat okupansinya secara real-time atau sewaktu-waktu, melalui aplikasi yang telah disediakannya melalui vendor.
Dibanderol dengan harga terjangkau Rp75.000 per malam, Hostel Fun Malioboro memang menyasar ceruk pasar wisatawan menengah ke bawah atau backpacker.
Meski murah, lokasinya sangat strategis. Ya, pelancong hanya perlu berjalan kaki sekitar 3 menit untuk sampai ke pusat perekonomian Malioboro, dari arah Jalan Mataram.
"Jadi, wisatawan-wisatawan yang backpacker-an itu, tidak perlu pusing soal budget akomodasi. Cukup Rp75 ribu sudah bisa standby di pusat Kota Yogya, di bawah Jalan Mataram, dekat banget sama kawasan Malioboro," urai Syaiful.
Baca juga: Malioboro Steril dari Asongan dan Pengamen Liar saat Libur Lebaran, Ini Langkah Pemkot Yogyakarta
Sejak beroperasi pada awal Desember 2025 lalu, hostel ini telah menyediakan 8 kamar siap pakai dari total kapasitas 20 kamar yang ditargetkan rampung seluruhnya pada libur Lebaran mendatang.
| Praktik Pijat Liar di Malioboro Jadi Fokus Penertiban, Petugas Sering Terlibat 'Kucing-kucingan' |
|
|---|
| Kawal Jemaah ke Tanah Suci, Tiga Nakes Pemkot Yogyakarta Diberangkatkan Jadi Petugas Haji |
|
|---|
| Gelar Kerja Bakti Massal Tiap Jumat, Wali Kota Yogyakarta Instruksikan ASN Bawa Sapu hingga Arit |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Bakal 'Lenyapkan' Kabel Udara, Siapkan Skema Ducting di 4 Zona Utama |
|
|---|
| Hanya 0,59 Persen ASN Pemkot Yogya yang WFH, Kinerja Pegawai Diklaim Terkendali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Fun-Hotel-Malioboro.jpg)