Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu per Kg, Ini Penjelasan dan Imbauan Pemda DIY

Pemda DIY mengidentifikasi, fluktuasi tajam harga cabai rawit yang kini menyentuh angka Rp 100.000 per kilogram bukan disebabkan oleh kelangkaan stok

Tribun Jogja/HANIF SURYO
SOAL HARGA CABAI - Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti ditemui di Kompleks Kepatihan, Rabu (4/3/2026). 

"Berarti harganya fluktuatif karena dia memang volatile food, jadi tergantung dari sisi konsumsi masyarakat atau tergantung dari demand (permintaan). Sebenarnya kalau dilihat, supply-nya aman. Untuk cabai pun sebenarnya aman.

Persoalan utama justru muncul pada rantai distribusi. Cabai hasil petani DIY dikenal memiliki kualitas unggul dan rasa yang lebih pedas, sehingga menjadi incaran pengepul dari luar daerah.

"Cuma persoalannya di sini adalah, kita bisa lihat dari sisi pengepulnya, distributornya, hingga pasarnya. Terus di sisi lain, apakah kemudian serapannya ini diambil oleh masyarakat kita sendiri, atau menjadi bagian komoditas yang diambil dari daerah lain? Terutama cabai. Kenapa cabai di sini sangat disukai? Tidak saja untuk masyarakat di sini, tapi juga masyarakat daerah lain. Katanya rasanya beda, lebih pedas."

Gerakan tanam cabai

Pemerintah DIY mengaku tidak bisa menekan petani untuk mematok harga rendah karena petani juga perlu bertahan hidup di tengah tingginya tawaran dari luar daerah.

Sebagai solusinya, Sekda mendorong gerakan menanam cabai secara mandiri di tingkat rumah tangga.

"Kita juga tidak bisa memaksa petani, misalnya bilang: 'Petani, jangan kasih harga tinggi dong, maksimal sekian.' Mereka kan pasti ingin untuk survive. Apalagi ketika di daerah lain berani menawar cukup tinggi untuk memasok kebutuhan di daerah mereka," jelas Ni Made. 

"Lalu apa yang kita lakukan? Kita tidak bisa menahan petani untuk tidak menaikkan harga. Namun, kami memberikan imbauan bahwa sebenarnya cabai itu tanaman yang sangat mudah untuk ditanam sendiri.

Ia menyarankan masyarakat mulai membiasakan diri mengolah cabai pascapanen menjadi pasta atau bubuk agar lebih tahan lama, mengingat karakter cabai yang cepat busuk dibandingkan bawang.

"Tanaman cabai itu sangat mudah. Kalau kita habis masak, bijinya kita tebarkan saja bisa tumbuh. Cuma kadang orang tidak begitu aware dengan itu.

"Padahal ini bagian yang sangat penting, terutama cabai rawit. Untuk konsumsi mandiri, kita bisa tanam cabai di pot. Bupati Gunungkidul punya program yang luar biasa, yaitu semua pekarangan ditanami sayur-sayuran," tambahnya.

Terkait intervensi melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti Taru Martani sebagai off-taker, Sekda mengakui adanya tantangan besar pada kapasitas cold storage (gudang pendingin). Selain itu, kebijakan pasar murah dinilai tidak akan memberikan dampak permanen jika hanya dilakukan menjelang hari besar keagamaan.

"Pemerintah juga bisa berperan sebagai off-taker. Kita punya BUMD, contohnya Tarumartani. Tapi sebenarnya itu juga tidak mudah, karena ketika disimpan pun, seberapa besar kapasitas cold storage kita untuk membuatnya bertahan? Saya kira ini tantangan bagi kita semua," paparnya. 

"Imbauan kami adalah bagaimana masyarakat bisa menanam di pekarangan atau di pot untuk konsumsi sendiri. Kami memang mengadakan pasar murah, tapi sifatnya hanya seperti pemadam kebakaran.

"Artinya, kalau kita bikin pasar murah hanya beberapa hari sebelum Lebaran, dampaknya tidak akan permanen," tutup Ni Made Dwipanti.

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved