Dampak Cuaca, Harga Mayoritas Sayur di Kota Yogya Naik hingga 80 Persen

Cuaca buruk yang mengganggu ketersediaan pasokan memicu lonjakan harga hingga 80 persen pada mayoritas komoditas sayur-mayur di Pasar Beringharjo

Tribun Jogja/HANIF SURYO
HARGA NAIK - Ida Chabibah (kiri), pedagang sayuran di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, sedang melayani pembeli di kiosnya, Kamis (26/2/2026). Di tengah lonjakan harga mayoritas komoditas sayur hingga 80 persen akibat cuaca buruk yang mengganggu pasokan, pedagang di pasar ini mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat yang signifikan memasuki pekan kedua Ramadan. 

Ringkasan Berita:
  • Di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok tersebut, para pedagang mengeluhkan anjloknya daya beli masyarakat secara drastis setelah seminggu berjalan bulan Ramadan.
  • Menurut Ida Chabibah, pedagang sayuran di Pasar Beringharjo, meski dalam dua hari terakhir harga mulai merosot perlahan, tetapi secara akumulatif kenaikan harga masih bertahan di angka 80 persen. 
  • Faktor cuaca menjadi variabel utama yang membuat stok barang di tingkat pengepul menipis dan memicu guncangan harga di pasar retail. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cuaca buruk yang mengganggu ketersediaan pasokan memicu lonjakan harga hingga 80 persen pada mayoritas komoditas sayur-mayur di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta.

Ironisnya, di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok tersebut, para pedagang mengeluhkan anjloknya daya beli masyarakat secara drastis setelah seminggu berjalan bulan Ramadan.

Kondisi ini tergambar jelas di lapak milik Ida Chabibah, salah satu pedagang sayuran di pasar legendaris tersebut. 

Menurut Ida, meski dalam dua hari terakhir harga mulai merosot perlahan, namun secara akumulatif kenaikan harga masih bertahan di angka 80 persen. 

Faktor cuaca menjadi variabel utama yang membuat stok barang di tingkat pengepul menipis dan memicu guncangan harga di pasar retail.

"Cuaca. Mempengaruhi pasokan. Stok barang kan menipis, mempengaruhi banget," ujar Ida.

Harga mulai meroket

Data harga di lapak Ida menunjukkan kenaikan yang cukup kontras dibandingkan harga normal. 

Komoditas seperti brokoli dan bunga kol mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Brokoli yang semula dibanderol Rp15.000 kini melonjak menjadi Rp35.000 per kilogram.

Kondisi serupa terjadi pada bunga kol yang naik dari Rp15.000 menjadi Rp30.000 per kilogram.

Sayuran lainnya tak luput dari tren kenaikan. Buncis kini menyentuh harga Rp20.000 dari sebelumnya Rp12.000, labu siam melonjak dari Rp5.000 ke Rp12.000, sementara kentang naik dari Rp16.000 menjadi Rp20.000. Untuk jenis sayuran terong, harganya naik dari Rp10.000 menjadi Rp13.000.

"Cabai rawit, situatif naik-turun harganya. Kemarin itu sempat Rp70.000, sekarang Rp80.000 lagi. Termasuk turun, dari Rp105.000, Rp100.000, Rp90.000, terus Rp70.000, sekarang Rp80.000. Cabai keriting turun, harganya turun dari Rp55.000 (menjadi) Rp40.000," tutur Ida merinci fluktuasi harga cabai yang sempat menembus angka di atas seratus ribu rupiah.

Meskipun pasokan yang didatangkan Ida dari wilayah Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, tergolong aman, persoalan baru muncul dari sisi permintaan.

Setelah sempat bergairah pada tiga hari pertama Ramadan, antusiasme pembeli justru merosot tajam memasuki pekan kedua.

Fenomena pasar sepi 

Ida menceritakan bahwa kelesuan ini merata dirasakan oleh rekan-rekan sesama pedagang di pasar lain di Yogyakarta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved