Fluktuasi Harga di Pasar Tradisional, TPID DIY: Mulai Ada Kenaikan Harga Sembako

TPID DIY mendapati adanya kenaikan harga beberapa komoditas di Pasar Semin, Kabupaten Gunungkidul.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/ Neti Istimewa Rukmana
Foto dok ilustrasi telur. 

TRIBUNJOGJA.COM - TPID DIY menemukan kenaikan harga sejumlah komoditas di Pasar Semin, Gunungkidul. Kenaikan dinilai masih dalam batas wajar, sementara stok pangan dan energi dipastikan aman selama Ramadan dan rangkaian hari besar keagamaan.

Tekanan terhadap harga kebutuhan pokok mulai terasa di sejumlah pasar tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY mendapati adanya kenaikan harga beberapa komoditas di Pasar Semin, Kabupaten Gunungkidul. Namun, pemerintah daerah memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga dan fluktuasi harga masih dalam batas toleransi.

Pemantauan lapangan pada Rabu (25/02) dipimpin Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY Eling Priswanto bersama Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntari Ningsih. Selain Pasar Semin, rombongan juga meninjau Agen LPG PT Gasindo Kerto Raharjo serta Gapoktan Maguru di Pulutan, Wonosari. Langkah ini menjadi bagian dari pengawasan intensif pada periode meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan, serta dalam rangkaian hari besar keagamaan seperti Idulfitri, Imlek, dan Paskah.

Harga sembako mulai naik

Di Pasar Semin, kenaikan harga terpantau pada kelompok bahan pokok. “Dari hasil sambang satu per satu ke pedagang, memang mulai ada kenaikan harga, khususnya pada kelompok sembako seperti telur, cabai, gula, hingga minyak goreng,” kata Endah.

Berdasarkan data pemantauan, harga gula pasir tercatat Rp17.000 per kilogram, minyak goreng merek Fortune Rp19.000, bawang merah Rp40.000, bawang putih Rp35.000, bawang bombai Rp32.000, telur Rp30.000, beras premium Rp14.000, beras medium Rp13.000, daging ayam Rp40.000, cabai rawit merah Rp80.000, cabai merah keriting Rp30.000, dan daging sapi Rp130.000. Kenaikan terutama terlihat pada komoditas hortikultura dan protein hewani, yang sensitif terhadap dinamika pasokan dan distribusi.

Di luar sektor pangan, pelemahan juga dirasakan pedagang sandang. Omzet pedagang pakaian di pasar tersebut dilaporkan turun hingga 50 persen, dipengaruhi persaingan dengan pasar modern dan platform penjualan daring. Kondisi ini menunjukkan tekanan ganda yang dihadapi pelaku usaha mikro dan pedagang tradisional: kenaikan biaya hidup di satu sisi dan penurunan daya saing di sisi lain.

“Kondisi ini akan kami bawa ke rapat rutin bersama pemerintah pusat pada Senin mendatang. Kita perlu menyampaikan potret nyata ekonomi UMKM dan pedagang pasar yang menjadi tulang punggung masyarakat kita,” tegas Endah.

Siapkan operasi pasar

Merespons tren kenaikan harga, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyiapkan skenario intervensi melalui operasi pasar. Rencana tersebut telah dilaporkan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bagian dari koordinasi pengendalian inflasi tingkat daerah.

“Kami sudah menjadwalkan operasi pasar kembali menjelang Lebaran nanti. Sebelumnya, intervensi untuk gula, minyak, dan beras sudah berjalan hingga putaran keenam. Terkait aspirasi pedagang di Pasar Semin untuk menambah kuota toko penjaga inflasi yang saat ini berjumlah 40 toko, akan segera kami bicarakan teknisnya dengan kepala dinas terkait,” tambah Endah.

Sementara itu, dari sisi energi rumah tangga, ketersediaan LPG 3 kilogram bersubsidi dinyatakan aman. Di Agen PT Gasindo Kerto Raharjo, Nyawis, distribusi mencapai 560 tabung per pengiriman dengan empat kali pengiriman (loading order/LO) per hari, sehingga total 2.240 tabung per hari untuk 102 pangkalan, atau rata-rata 24 pangkalan per hari.

Meski demikian, fluktuasi harga di tingkat pengecer diakui terjadi. “Di masyarakat atau pengecer pasti ada pergerakan harga karena sudah masuk mekanisme pasar, namun kenaikannya masih dalam batas toleransi. Yang terpenting, jangan sampai ada kelangkaan yang memicu inflasi tinggi,” ungkapnya.

Di sisi produksi, situasi relatif lebih positif. Gapoktan Maguru di Desa Pulutan, Wonosari, melaporkan kondisi tanam yang lebih baik dibandingkan tahun 2024 yang terdampak kekeringan. Tahun ini, cuaca dinilai mendukung sehingga produktivitas meningkat.

Endah menyebut stok beras di Gunungkidul dalam kondisi surplus. Selain produksi yang membaik, tradisi petani menyimpan sebagian gabah sebagai cadangan pangan keluarga turut memperkuat ketahanan lokal.

“Kita sebenarnya surplus beras. Petani kita cerdas, mereka menyimpan hasil panen sebagai cadangan. Untuk kebutuhan rutin seperti pemenuhan beras bagi ASN yang wajib membeli produk lokal, gapoktan sudah memiliki sistem identifikasi. Mereka tahu persis siapa anggota yang siap menyetor setiap bulan,” jelas Endah.

Secara kapasitas, Gapoktan Maguru mampu menggiling 1,5 ton beras per hari, dengan harga jual ke pedagang berkisar Rp12.500–Rp13.000 per kilogram. Dukungan modernisasi alat, termasuk mesin penggilingan dan mobil operasional dari Bank Indonesia, serta rencana penambahan alat pengering (dryer), diharapkan menjaga kualitas sekaligus kontinuitas pasokan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved