Guyonan Wakil Bupati Kulon Progo soal Penghapusan Program 'Geblek Renteng'

Banyak catatan setelah pada setahun pertama masa kerja Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
SETAHUN AGUNG-AMBAR - Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko di Aula Adikarta, Sekda Kulon Progo, Jumat (28/2/2025). Banyak catatan setelah pada setahun pertama masa kerja Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko.  

"Kebijakan-kebijakan itu justu menurunkan popularitas dan kepercayaan masyarakat pada keduanya," kata Sapardiyono.

Pria yang pernah menjadi bakal calon Bupati Kulon Progo di Pilkada 2024 ini berharap Agung-Ambar lebih fokus pada kebijakan krusial dan vital, seperti perbaikan infrastruktur.

Cara tersebut dinilai akan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya.

Kontroversi penghapusan "Geblek Renteng"

Yang paling banyak dibicarakan adalah keputusan besar Agung-Ambar untuk menghilangkan kebijakan pemimpin sebelumnya, Hasto Wardoyo, yakni Geblek Renteng

Menurut Aris, apa yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko sebagai hal yang "emosional". 

Pasalnya, itu bagaikan menggantikan identitas lama batik motif Geblek Renteng Kulon Progo dengan motif Binangun Kertaharja yang diluncurkan tahun lalu.

Bahkan, segala hal yang berbau Geblek Renteng di pagar bangunan pemerintah pun juga digantikan dengan ornamen Gunungan serta warna kuning dan hijau Pare Anom. 

Tak ayal, perubahan besar-besaran terhadap identitas tersebut menjadi bahan pembicaraan publik Kulon Progo di media sosial.

"Itu kebijakan yang emosional dan tidak esensial, padahal masih banyak persoalan lain yang harus disentuh, seperti perbaikan infrastruktur," jelas Aris.

Tentang Geblek Renteng 

Geblek Renteng adalah motif batik khas Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, yang terinspirasi dari makanan tradisional geblek (berbentuk angka delapan) dan kuncup bunga.

Motif ini menjadi pernah simbol identitas daerah yang sempat digunakan sebagai seragam sekolah, PNS, serta instansi, sekaligus lambang kemajuan dan kemandirian ekonomi daerah. 

Motif ini diciptakan oleh Ales Candra Wibawa (siswa SMA 1 Wates) melalui lomba desain batik khas Kulon Progo, populer pada era Bupati Hasto Wardoyo.

Filosofinya mencerminkan jalinan persaudaraan dan gotong royong masyarakat Kulon Progo.

Wabup Ambar menganggi kritik

Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko pun menanggapi kritik terkait kinerjanya bersama Bupati Kulon Progo Agung Setyawan di setahun pertama.

Itu juga termasuk merespons pernyataan dari Ketua DPRD Kulon Progo terkait kinerja selama setahun ini.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved