Antisipasi Trauma Psikis PascaGempa, Dinkes Bantul Siapkan Pendampingan Psikologis

Dinkes Kabupaten Bantul masih menunggu informasi terkini dampak kejadian gempa bumi Pacitan yang juga dirasakan di wilayah Bantul

Tayang:
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Agus Tri Widiyantara. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat korban luka dampak dari bencana gempa bumi Pacitan di wilayah Bantul pada Jumat (6/2/2026) dini hari semakin bertambah.

Beberapa di antaranya menjalani rawat inap dan rawat jalan.

Komandan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah, mengatakan berdasarkan situation report atau laporan situasi kejadian dampak gempa Bantul hingga pukul 13.30 WIB, ada 36 korban luka.

"Sebanyak 36 korban luka itu terdiri atas delapan orang rawat inap dan 28 orang rawat jalan," katanya.

Beberapa korban luka-luka ada yang menjalani perawatan di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, RSUD Panembahan Senopati, RSUD Saras Adyatma, dan RSU Permata Husada, RSU St. Elisabeth.

Kemudian, ada yang menjalani perawatan di RSU Prambanan, RS Nur Hidayah, RS Rajawali Citra, RSPAU Dr. Hardjolukito, RS UII Bantul, RSKB Ringroad, hingga Puskesmas Sanden.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Agus Tri Widiyantara, mengatakan pihaknya masih menunggu informasi terkini dampak kejadian tersebut. Apalagi, ada korban yang sampai mengalami patah tulang.

"Detailnya belum tahu, karena informasinya ada yang sampai patah tulang karena mungkin jatuh, sehingga harus dilakukan operasi," terangnya.

Baca juga: Update Dampak Gempa Bumi Pacitan di Bantul: Kerusakan Tersebar di 20 Titik, 31 Orang Luka-luka

Trauma Psikis

Kemudian, terkait korban trauma psikis pascabencana, sampai saat ini juga masih ditelusuri.

Namun, diperkirakan korban psikis ada, dikarenakan gempa kali ini cukup besar.

"Ya mungkin ada yang sampai trauma. Tapi, laporan dari teman-teman, dari Pusdalops tidak ada yang sampai terus tidak berani masuk ke rumah lagi," jelas Agus.

Namun, untuk warga yang sesaat atau sekitar satu jam pascagempa sempat melarikan diri dan keluar rumah.

Dan ketika kemudian dirasa sudah aman, ada yang langsung kembali masuk ke rumah.

"Kalau misalnya ada korban yang sampai trauma psikis dan lain sebagainya, butuh pendampingan, nanti bisa konsultasi ke Puskesmas. Karena, beberapa Puskesmas ada yang sudah punya psikolog, jadi bisa dimanfaatkan untuk konsultasi dan menghilangkan trauma," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved