Mengulik Kisah Bengkel Elektronik Jadul di Bantul, Kerap Jadi Jujukan Kolektor Mancanegara

Laki-laki itu tak lain Asriyadi, sosok dokter bedah walkman yang kerap dicari pecinta musik analog dari berbagai belahan negara.

Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
PERBAIKI WALKMAN: Pemilik Dcell Jogja Store, Asriyadi (41), sedang memperbaiki walkman di tempat usahanya di Gang Merpati, Padukuhan Sawit, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Kamis (5/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ada sosok dokter bedah walkman dan barang elektronik jadul di Bantul. Ia lah Asriyadi, yang membuka usahanya Gang Merpati, Padukuhan Sawit, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon.
  • Berawal rasa kecintaannya terhadap musik sejak duduk di bangku SMA, kebiasaannya otak-atik walkman akhirnya dikenal luas bahkan dicari pelanggan mancanegara.
  • Warga Belanda, Jerman, Rusia, Australia, Cina, dan Malaysia juga mencari Adi untuk memperbaiki barang-barang walkman, radio, dan sejenisnya. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan barang elektronik jadul terlihat berada di depan teras rumah seorang warga di Gang Merpati, Padukuhan Sawit, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Kamis (5/2/2026) pagi. 

Suasana hening berpadu dengan aroma timah terbakar cukup tercium dan siap menyambut para pelanggan yang mencari dokter bedah walkman.

Dokter bedah walkman 

Ketika Tribunjogja.com berada di lokasi tersebut, terlihat seorang laki-laki mengenakan kaus dan celana pendek berwarna hitam. Laki-laki itu tak lain Asriyadi, sosok dokter bedah walkman yang kerap dicari pecinta musik analog dari berbagai belahan negara.

Adi, sapaan akrabnya, juga terlihat cekatan. Tangan kirinya mampu memegang solder, tangan kanannya memegang pinset, dan ditujukan pada salah satu komponen dari walkman. 

Rupanya, ia sedang mencari salah satu komponen walkman yang rusak untuk segera dibenahi dan diserahkan kembali kepada pemilik walkman tersebut. Sebab, baru-baru ini, ada seorang pelanggan yang mengunjunginya dan meminta membenahi walkman yang rusak. Padahal, usia walkman itu sudah cukup tua dan suku cadangnya sudah cukup lama berhenti diproduksi.

Bagi sang pemilik, walkman itu bukan sekadar pemutar musik portabel yang sudah ketinggalan zaman, sehingga Adi terus berupaya membenahi kerusakan pada walkman itu.

"Solder dan pinset ini sudah menjadi teman saya sehari-hari. Ini saya gunakan untuk membongkar maupun memasang komponen yang rusak dari barang-barang elektronik yang rusak dan segera dilakukan perbaikan," katanya, sambil menatap komponen pada walkman tersebut.

Selain itu, ia juga menceritakan bahwa ada peralatan lainnya termasuk multitester untuk mengecek tegangan input dan output suara serta mengukur tegangan voltase. Tidak hanya itu saja, terdapat beberapa alat lainnya yang juga menjadi teman kerja selama beberapa tahun. Pasalnya, usaha tersebut telah ia tekuni mandiri, tanpa tenaga tambahan.

Awal mula buka usaha

Melalui label Dcell Jogja Store, Adi juga menceritakan bahwa usaha tersebut lahir dari rasa kecintaannya terhadap musik sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Akan tetapi, dikarenakan dulu masih memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga tidak bisa memiliki walkman dan compact cassette atau kaset. Padahal, memiliki barang tersebut pada zaman dulu tergolong mewah, dikarenakan harga jual yang mahal.

"Lulus SMA, saya mulai cari-cari kerja dan mulai ngumpulin alat-alat sekitar tahun 2015-2016. Saya dulu kerja di toko handphone dan ada basic untuk servis handphone, jadi mulai otak-atik di sana. Tapi, saya mulai jenuh otak-atik handphone dan ketika ada waktu luang selesai kerja mulai otak-atik walkman sendiri," terangnya.

Sekitar tahun 2017-2018, Adi mulai terjun membuka toko konter handphone mandiri di Kota Yogyakarta. Namun, saat pulang ke rumah, Adi tetap menyempatkan waktu untuk mengotak-atik barang walkman miliknya. Ternyata, kegiatan Adi diketahui oleh teman-temannya. Apalagi, Adi kerap mencari walkman dan perangkat digital jadul lainnya.

"Tiba-tiba ada teman yang coba perbaiki walkman dan lainnya di tempat saya. Permintaan teman untuk perbaiki walkman, piringan hitam, dan sebagainya itu ternyata semakin banyak. Akhirnya, saya pindah ke sini (Gang Merpati, Padukuhan Sawit) untuk fokus dan pelan-pelan perbaiki komponen, tapi ternyata sekarang booming," ucap dia.

Pelanggan mancanegara

Laki-laki usia 41 tahun ini pun masih tidak menyangka, bahwa hobi tersebut membuahkan hasil yang luar biasa. Bahkan, warga dari Belanda, Jerman, Rusia, Australia, Cina, Malaysia, dan lain sebagainya juga mencari Adi untuk memperbaiki barang-barang walkman, radio, dan sejenisnya. Demikian pula dengan warga di beberapa kota Indonesia juga sempat mencari dia.

Ia mengaku sempat terkejut ketika ada warga negara asing yang mencari dia hanya untuk memperbaiki walkman di tempat usahanya. Namun, tidak hanya memperbaiki komponen yang rusak pada walkman tersebut, ada beberapa pelanggan negara asing yang juga membeli kaset jadul di tempatnya. Apalagi, Adi sudah cukup lama mengoleksi kaset jadul tahun 1960-an dengan berbagai genre. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved