Kronologi Mahasiswi Asal Pekalongan Dianiaya Driver Online di Sleman hingga Viral
Peristiwa tidak menyenangkan ini terjadi saat korban memesan transportasi online dari Stasiun Tugu, Yogyakarta menuju indekosnya
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Mahasiswi asal Pekalongan menceritakan kronologi ia menjadi korban penganiayaan oleh driver taksi online di Yogyakarta.
- Peristiwa itu diduga terjadi karena komunikasi yang tidak berjalan baik hingga membuat driver disebut pasang mode silent treatment selama perjalanan.
- Situasi memanas saat tiba di tujuan penumpang hendak membayar tarif kembali terjadi komunikasi yang tidak berjalan baik
- Driver mengancam hingga menarik menarik kaki, tangan dan kerudung penumpang tersebut hingga korban berteriak.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Seorang mahasiswi asal Pekalongan, Cahaya Fadhila, diduga menjadi korban penganiayaan oleh driver taksi online di Yogyakarta.
Peristiwa tidak menyenangkan ini terjadi saat korban memesan transportasi online dari Stasiun Tugu, Yogyakarta menuju indekosnya di wilayah Gamping, Kabupaten Sleman.
Korban ditarik bagian kaki, tangan hingga kerudung. Kasus ini viral di media sosial dan ditangani pihak Kepolisian.
Kesaksian korban
Saat dihubungi, Cahaya bercerita, peristiwa tersebut bermula ketika dirinya memesan taksi online di stasiun Tugu.
Kondisi saat itu hujan. Driver mengabarkan posisinya berada di depan Arte hotel. Namun, ia yang merasa posisinya sudah di depan hotel kebingungan mencari keberadaan mobil karena intruksi driver dinilai kurang jelas.
Salah paham saat komunikasi
Saat itu diduga terjadi komunikasi yang tidak berjalan baik. Cahaya dianggap memburu-buru driver.
"Saya tidak pernah bilang cepat ya pak, cepat ya. Saya cuma bilang lama sekali. Karena driver sudah sampai, tapi kurang jelas memberikan instruksi dia berada di mana, biar saya gampang menghampirinya. Tapi dia sangat sangat tidak menjelaskan seperti itu," kata Cahaya, Rabu (4/2/2026).
Setelah bertemu, Cahaya kemudian masuk ke dalam mobil. Menurut dia, driver tidak bicara sama sekali dan langsung memasang mode silent treatment sepanjang perjalanan. Jika dirinya salah ketika awal berkomunikasi, kata Cahaya, seharusnya ditegur, dinasehati atau minimal dimarahi bukan didiamkan.
Suasana semakin memanas ketika mobil sudah sampai tujuan. Cahaya bermaksud membayar dan bertanya apakah ada kembaliannya. Driver menjawab tidak ada kembalian.
Cahaya lalu mengusulkan agar membayar dengan metode transfer. Namun justru driver bilang tidak bisa. Cahaya kembali bertanya lantas bagaimana pembayarannya. Namun Driver mengatakan bahwa itu urusan kamu (penumpang).
Cahaya meletakkan uangnya di samping driver. Berharap bisa diterima. Ia juga menjelaskan, bukan dirinya melemparkan uang tetapi uang itu sengaja ditaruh di situ karena dirinya sedang memegang handphone untuk merekam kejadian.
"Jika saya ambil (uangnya), takutnya saya ditarik," kata dia.
Driver mengancam
Cahaya merekam peristiwa itu menggunakan ponsel. Saat merekam, posisinya masih duduk di kursi penumpang. Saat insiden itu, driver justru mengancam Cahaya dengan mengaku sebagai wartawan.
Cahaya menimpali dengan mengatakan dirinya sebagai mahasiswi dengan harapan driver memahami bahwa dia hanya anak perantauan.
| Polisi Gerebek Daycare di Umbulharjo Yogyakarta Terkait Dugaan Kekerasan Anak |
|
|---|
| Wakil Ketua DPRD Kota Yogyakarta Berikan Catatan Soal Raperda KLA: Keluarga Harus Jadi Pilar Utama |
|
|---|
| Wujudkan Provinsi Tangguh Bencana, Ratusan ASN Pemda DIY Dilatih Insting Penyelamatan Diri |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Siapkan Lahan 2 Hektare untuk 'Taman Pintar II' di Umbulharjo |
|
|---|
| Imbas Penutupan Akses Bus ke TKP Senopati Yogyakarta, Taman Pintar Terancam Merugi Miliaran Rupiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-kekerasan.jpg)