Dilema MBG bagi Pedagang Sayur di Yogyakarta: Antara Kecipratan Rezeki dan 'Tercekik' Pasokan 

Para pedagang sayur-mayur di Yogyakarta merasakan pergeseran pasokan dan fluktuasi harga yang dipicu tingginya permintaan untuk menu harian MBG

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Seorang pedagang sayuran di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta 

Ringkasan Berita:
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Yogyakarta mulai membawa dampak nyata bagi ekosistem pasar tradisional. 
  • Di Pasar Beringharjo, para pedagang sayur-mayur merasakan pergeseran pasokan dan fluktuasi harga yang dipicu tingginya permintaan untuk menu harian program MBG
  • Program MBG berpengaruh signifikan terhadap ketersediaan barang dagangan berupa sayuran di lapak para pedagang pasar tradisional
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Yogyakarta mulai membawa dampak nyata bagi ekosistem pasar tradisional. 

Di Pasar Beringharjo, para pedagang sayur-mayur merasakan pergeseran pasokan dan fluktuasi harga yang dipicu tingginya permintaan untuk menu harian program tersebut.

​Ida Chabibah, seorang pedagang sayuran di Pasar Beringharjo, mengungkapkan program MBG berpengaruh signifikan terhadap ketersediaan barang di lapaknya. 

Meski ada kenaikan harga, masalah utama yang dihadapi pedagang dewasa ini adalah rebutan stok dengan pihak vendor sebagai kepanjangan tangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

​"Sangat pengaruh sekali, terutama untuk stok barang. Mereka (vendor) lebih berani membeli barang dengan harga tinggi daripada kita pedagang pasar," ujarnya, Selasa (27/1/2026).

​Menurut Ida, skema distribusi sayur kini bergeser, di mana para pengepul di sentra produksi cenderung lebih mendahulukan permintaan besar dari program MBG. 

Akibatnya, kuota sayuran yang biasanya dialokasokan untuk para pedagang pasar tradisional, termasuk Beringharjo, sering kali terpangkas.

​"Misalkan stok barang cuma ada 5 kuintal. Karena MBG perlu banget, akhirnya kita yang di pasar nggak kebagian. Ya kita kalah," cetusnya.

Dampak paling terasa muncul pada komoditas yang menjadi menu utama orak-arik atau tumisan dalam porsi MBG, seperti bunga kol, brokoli, buncis, jagung manis, hingga wortel.

Walaupun, dari segi harga kenaikannya tidak terlampau terasa, antara Rp1.000 hingga Rp3.000 saja, untuk masing-masing komoditas sayuran tersebut,

​"Bunga kol dan brokoli itu yang kenaikannya terasa. Biasanya stok dari pedagang itu bisa 1,5 kuintal, sekarang yang tersedia cuma 50 kilo. Barangnya langka," ucapnya.

Baca juga: Antisipasi Inflasi, Pemda DIY Atur Variasi Menu Makan Bergizi Gratis

Kecipratan Rezeki

Meski harus berjibaku dengan pasokan yang seret, Ida mengaku sesekali masih mendapatkan berkah dari program prioritas pemerintah pusat itu. 

Namun, ia berujar, kerja sama biasanya dengan pedagang lain yang jadi pemasok bahan makanan untuk pihak ketiga atau vendor, yang digandeng dapur MBG.

​"Ada sebagian pedagang yang kerja sama dengan vendor. Kita kadang kecipratan rezeki kalau mereka kekurangan (pasokan sayur). Alhamdulillah masih kebagian rezeki, walaupun nggak setiap hari," katanya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved