Prosesi Labuhan Merapi, Ritual Budaya Sekaligus Daya Tarik Wisata di Sleman

Selain menjadi ritual budaya, prosesi Labuhan Merapi juga menjadi magnet destinasi wisata budaya yang menarik antusiasme wisatawan setiap tahunnya. 

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Dokumentasi untuk Tribun Jogja/Pemkab Sleman
RITUAL - Pelaksanaan prosesi Labuhan Merapi Tahun Dal 1959/2026 di Cangkringan, Kabupaten Sleman, Selasa (20/1/2026). Selain ritual budaya, Labuhan Merapi juga sekaligus jadi daya tarik wisata, khususnya di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata, kata Danang, akan terus melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan prosesi adat dapat berjalan sebagaimana semestinya.

"Harapan kami tentunya Labuhan ini selain menjadi ritual khusus, juga ke depannya dapat terus menjadi daya tarik bagi wisatawan, khususnya bagi yang ingin melihat secara langsung kegiatan budaya ini, sebagai bagian dari nguri-uri budaya di Sleman," kata Danang. 

Diketahui, uborampe atau perlengkapan upacara adat Labuhan Merapi ini sehari sebelumnya dibawa oleh utusan Raja Keraton Ngayogyakarta ke Cangkringan dan diterima oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, di Kantor Kapanewon Cangkringan.  

Uborampe tersebut, oleh Bupati kemudian diserahkan ke Juru Kunci Gunung Merapi. 

Harda mengaku mendukung pelaksanaan upacara adat Labuhan Merapi.

Ritual adat tersebut, menurut dia, merupakan wujud rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan. 

"Acara Labuhan Merapi merupakan wujud rasa syukur masyarakat Yogyakarta kepada Tuhan Pencipta Alam, atas nikmat berupa kesuburan tanah, dijauhkan dari marabahaya, serta diberikan kesehatan dan keutamaan dalam hidup," ujar Harda.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved