Pembangunan Pariwisata Tekan Karst Gunung Sewu, Sosiolog UGM Ingatkan Risiko Jangka Panjang
Kerusakan karst berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi masyarakat sekitar. Kawasan ini selama ini menjadi penyangga air
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Kawasan karst Gunung Sewu mengalami tekanan pembangunan pariwisata
- Aktivitas itu memunculkan kekhawatiran terhadap daya dukung lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air
- Sosiolog Universitas Gadjah Mada, A. B. Widyanta, menekankan Karst berfungsi sebagai sistem ekologis yang menopang kehidupan
- Dalam pembangunan, perspektif ekologis perlu ditempatkan sejajar dengan kepentingan ekonomi.
TRIBUNJOGJA.COM - Di balik geliat pembangunan pariwisata yang kian masif di selatan Yogyakarta, kawasan karst Gunung Sewu menghadapi tekanan serius. Bentang alam yang selama ini menjadi penyangga air dan ruang hidup masyarakat perlahan berubah, memunculkan kekhawatiran akan keberlanjutan lingkungan dan masa depan warga yang bergantung padanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan karst Gunung Sewu mengalami tekanan pembangunan pariwisata yang semakin intensif. Sejumlah proyek pembangunan mengubah bentang alam karst secara signifikan.
Timbul kekhawatiran
Aktivitas tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap daya dukung lingkungan dan keberlanjutan sumber daya air, mengingat karst memiliki sistem hidrologi bawah tanah yang kompleks dan rapuh.
Kerusakan karst berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi masyarakat sekitar. Kawasan ini selama ini menjadi penyangga air sekaligus ruang hidup masyarakat pedesaan dan pesisir.
Oleh karena itu, pembangunan yang berlangsung dinilai perlu diarahkan pada perlindungan karst dengan melibatkan sinergi antara akademisi, masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada bertajuk “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa”, beberapa waktu lalu.
Diskusi ini menghadirkan akademisi, perwakilan kelompok masyarakat sipil, serta perangkat daerah untuk membahas dinamika pembangunan dan dampaknya terhadap kawasan karst.
Menopang kehidupan
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, A. B. Widyanta, menekankan bahwa karst Gunung Sewu tidak dapat dilepaskan dari relasi panjang antara alam dan masyarakat. Karst, menurut dia, berfungsi sebagai sistem ekologis yang menopang kehidupan di wilayah dengan keterbatasan air permukaan. Karena itu, pembangunan yang mengabaikan karakter karst dinilai berisiko merusak keseimbangan tersebut.
“Karst Gunung Sewu adalah ruang hidup yang terbentuk dari relasi panjang antara manusia dan alam, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara hati-hati,” ujar Widyanta dalam keterangan yang dikirimkan kepada wartawan, Selasa (20/1).
Ia menegaskan bahwa perspektif ekologis perlu ditempatkan sejajar dengan kepentingan ekonomi. Pembangunan pariwisata yang berlangsung saat ini, menurutnya, kerap mengubah makna ruang hidup masyarakat lokal. Bentang alam yang sebelumnya memiliki nilai kultural dan simbolik mengalami pergeseran fungsi, yang berdampak pada relasi sosial dan cara masyarakat memaknai lingkungannya.
“Bangunan pariwisata mungkin tampak megah, tetapi ia menghancurkan nilai luhur Gunungkidul yang selama ini dijaga masyarakat,” tutur Widyanta.
Persoalan relasi kuasa
Selain perubahan ekologis, Widyanta juga menyoroti persoalan relasi kuasa dalam pengelolaan ruang di kawasan karst. Ia menilai kepentingan investasi sering kali lebih menentukan dibandingkan suara warga. Minimnya partisipasi publik, kata dia, memperbesar potensi konflik agraria dan menempatkan masyarakat pada posisi rentan.
“Ketika pembangunan pariwisata ditempatkan di atas kepentingan ekologis, maka yang dikorbankan adalah keberlanjutan ruang hidup,” katanya.
Logika pembangunan keliru
Dari sudut pandang masyarakat sipil, relawan NGO Ruang, Pitra Hutomo, menilai kawasan karst Gunung Sewu kerap disalahpahami dalam logika pembangunan. Karst, menurut dia, lebih sering dilihat sebagai objek ekonomi dibandingkan sebagai ekosistem hidup yang menyimpan nilai ekologis dan kultural yang saling terkait.
| Harga Hewan Kurban di Gunungkidul Mulai Bergerak Naik, Pasokan Dipastikan Surplus |
|
|---|
| Asmara Terlarang Berbuah Semen: Pasangan Selingkuh 'Cor' Jalan Desa yang Rusak |
|
|---|
| Masifnya Investasi di Selatan Gunungkidul Rusak Karst, Pengusaha Jadikan Denda Sebagai 'Budaya' |
|
|---|
| Disebut Punya Potensi Besar, PSI DIY Bidik Gunungkidul Jadi Lumbung Suara di Pemilu 2029 |
|
|---|
| Tak Cuma Touring, Ratusan Biker Muslim Ini Kumpul di Ponpes Darush Sholihin Gunungkidul Sambil Ngaji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pembangunan-Pariwisata-Tekan-Karst-Gunung-Sewu-Sosiolog-UGM-Ingatkan-Risiko-Jangka-Panjang.jpg)