Kasus PMK Kembali Merebak di Kulon Progo, Diyakini Gejalanya Lebih Ringan

Sampai hari ini dilaporkan ada 16 sapi terpapar PMK di Wates, 13 sapi di Lendah, dan 10 sapi di Temon

|
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Alexander Aprita
PENGAMBILAN SAMPEL: Proses pengambilan sampel cairan dari mulut dan hidung sapi di kandang komunal yang dikelola Kelompok Ternak Ngudi Makmur, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, Kulon Progo, Rabu (14/01/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Dilaporkan ada 16 sapi terpapar PMK di Wates, 13 sapi di Lendah, dan 10 sapi di Temon di awal 2026.
  • Sapi yang terpapar PMK saat ini masih dalam proses pengobatan dan diketahui gejalanya tidak berat karena sapi sudah divaksin.
  • Pemkab Kulon Progo mengimbau peternak saat ini mengurangi aktivitas lalu lintas keluar-masuk ternak dari dan keluar daerah. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di Kulon Progo kembali merebak di awal tahun 2026 ini. Kasusnya kebanyakan menyerang pada sapi dan sudah ditemukan di sejumlah kapanewon.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo, Yuriati menyampaikan bahwa setidaknya masih ada kasus aktif PMK di 3 kapanewon.

Jumlah korban PMK

"Sampai hari ini dilaporkan ada 16 sapi terpapar PMK di Wates, 13 sapi di Lendah, dan 10 sapi di Temon," katanya pada wartawan, Rabu (14/01/2026).

Yuriati mengatakan seluruh sapi yang terpapar PMK saat ini masih dalam proses pengobatan. Adapun jumlah yang sembuh semakin banyak dan sampai saat ini tidak ada kasus kematian sapi akibat PMK yang dilaporkan masyarakat.

Gejala ringan

Meski begitu ia meyakini kasus PMK yang ditemukan kali ini gejalanya tidak akan seberat seperti saat 2022 lalu. Sebab selain sudah diketahui cara penanggulangannya, sebagian besar sapi juga sudah divaksin.

"Beberapa sapi yang sudah divaksin juga dilaporkan terpapar PMK, tapi gejalanya lebih ringan," ujar Yuriati.

Ia menduga kembali merebaknya PMK di Kulon Progo disebabkan oleh masuknya hewan ternak dari luar daerah. Hewan yang sudah terpapar PMK kemudian menulari sapi lainnya di kandang yang sama.

Imbauan

Yuriati pun mengimbau peternak agar saat ini mengurangi aktivitas lalu lintas keluar-masuk ternak dari dan keluar daerah. Selain itu, sapi juga perlu mendapatkan pakan yang baik, kandangnya selalu bersih, serta dipastikan sudah menerima vaksin.

"Dijaga dulu lalu lintas ternaknya setidaknya selama 10 hari, karena biasanya penyakit PMK bisa bertahan selama itu," jelasnya.

Sapi yang diternakkan oleh Kelompok Ternak Ngudi Makmur, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates termasuk yang terpapar PMK. Ketuanya, Subarman mengaku baru kali itu PMK mengenai sapi di sana.

Setidaknya hampir 50 persen dari sekitar 70 sapi di kandang milik Kelompok Ternak Ngudi Makmur yang terpapar PMK. Gejalanya sama, seperti mengeluarkan cairan dari mulut dan hidungnya secara terus-menerus.

Subarman khawatir penyebarannya bisa meluas dan berdampak pada harga jual sapi. Apalagi di kandang komunal tersebut juga dititipkan belasan sapi milik Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal), yang sebagian juga ikut terpapar.

"Kami berharap ada gerak cepat untuk penanganan agar penyebarannya bisa terkendali," katanya.

Subarman mengatakan petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) setempat sudah aktif melakukan pemantauan. Termasuk memberikan obat-obatan yang dibutuhkan hingga vitamin untuk daya tahan tubuh sapi.(alx)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved