Okupansi Hotel di DIY Belum Merata Selama Masa Libur Nataru

Hingga saat ini kunjungan wisatawan ke Yogyakarta masih didominasi oleh wisatawan domestik.

Tribunjogja/ Christi Mahatma Wardhani
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono 

Ia menilai narasi yang berkembang di media sosial berpotensi menimbulkan persepsi keliru di kalangan calon wisatawan.

“Ada calon wisatawan yang akhirnya ragu datang ke Jogja karena takut macet, takut hotel mahal, takut tidak dapat kamar. Padahal, Yogyakarta itu terdiri dari satu kota dan empat kabupaten, yakni Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul,” katanya.

Selain persepsi publik, PHRI DIY juga menyoroti keberadaan akomodasi non-hotel, seperti vila, homestay, rumah sewa harian, dan kos-kosan harian, yang dinilai turut memengaruhi tingkat hunian hotel anggota PHRI.

“Data okupansi 60 sampai 80 persen ini juga karena banyak wisatawan menggunakan akomodasi lain yang bukan anggota PHRI, seperti vila, homestay, rumah sewa, dan kos harian. Sebagian dari akomodasi ini tidak berizin atau izinnya tidak sesuai peruntukan,” ujar Deddy.

Ia memperkirakan keberadaan akomodasi non-hotel tersebut dapat menyedot sekitar 10 hingga 15 persen tamu hotel.

“Secara signifikan memang tidak terlalu besar, tetapi bisa menyedot tamu hotel sekitar 10 sampai 15 persen. Kalau ini dibiarkan, ini menjadi kebocoran Pendapatan Asli Daerah bagi kota dan kabupaten, dan dalam jangka panjang bisa berdampak negatif bagi destinasi,” katanya.

Persiapan Menyongsong 2026

Menghadapi libur akhir tahun, hotel-hotel di Yogyakarta tetap melakukan berbagai persiapan operasional.

Meski pesta kembang api dilarang, perayaan Tahun Baru tetap dikemas dengan pendekatan berbeda.

“Kami tetap menyelenggarakan acara, tetapi dengan kemasan yang berbeda. Tetap ada hiburan, makan malam, doa bersama, dan juga penggalangan donasi untuk saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera dan Aceh. Tahun ini kami lebih memperhatikan faktor kemanusiaan,” kata Deddy.

Ke depan, PHRI DIY tetap optimistis menyongsong tahun 2026.

Pertumbuhan hotel baru dan rebranding hotel lama dinilai memberikan lebih banyak pilihan bagi wisatawan, meski harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan.

“Kami memiliki tagline Guyub Sesarengan, artinya saling berkoordinasi, saling membantu, saling mendoakan, dan saling mengingatkan. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan asosiasi pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” ujar Deddy.

Ia menambahkan, penguatan digitalisasi menjadi salah satu fokus untuk mendorong kinerja industri perhotelan dan restoran di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dengan terobosan-terobosan baru dan penguatan digitalisasi di tahun 2026, kami optimistis okupansi hotel dan restoran anggota PHRI Daerah Istimewa Yogyakarta bisa terus meningkat,” katanya. (*)
 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved