Harga Tiket Pesawat Naik, PHRI Kulon Progo Khawatirkan Dampaknya Pada Okupansi

Sebab ada potensi jumlah tamu atau pengunjung akan turun imbas naiknya harga tiket pesawat.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
PERHOTELAN: Foto dok ilustrasi Deretan gedung hotel di sepanjang Jalan Nasional Wates-Purworejo, Kapanewon Temon, Kulon Progo, belum lama ini. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah pusat mengizinkan adanya kenaikan harga tiket pesawat, imbas dari naiknya harga avtur akibat konflik di Timur Tengah. Adapun pemerintah membatasi kenaikan harga tiket antara 9 hingga 13 persen.

Kenaikan harga tiket pesawat memicu kekhawatiran bagi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulon Progo. Ketua PHRI Kulon Progo, Sumantoyo mengaku pihaknya hanya bisa prihatin dengan kondisi itu.

"Yo piye, kami hanya bisa prihatin saja," katanya dihubungi pada Kamis (09/04/2026).

Khawatir okupansi turun imbas harga tiket pesawat

Sumantoyo mengaku masalah tersebut sudah menjadi pembahasan sesama anggota PHRI Kulon Progo. Sebab ada potensi jumlah tamu atau pengunjung akan turun imbas naiknya harga tiket pesawat.

Jika sudah begitu, maka para anggota PHRI Kulon Progo harus melakukan langkah efisiensi. Seperti dalam penggunaan utilitas berupa listrik dan air, namun untuk pegawai dipastikan belum ada opsi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"PHK menjadi opsi terakhir, kami sampai saat ini juga masih wait and see," ujar Sumantoyo.

Ia pun menilai masih ada peluang adanya pengunjung dari moda transportasi lain seperti kereta api dan angkutan darat. Meski peluangnya terbilang cukup kecil.

PHRI Kulon Progo kini tengah menghadapi kelesuan okupansi atau keterisian dari pengunjung. Seperti saat libur Lebaran 2026, yang mana okupansinya hanya 70 persen.

"Itu pun kebanyakan limpahan tamu dari Kota Yogyakarta," kata Sumantoyo.

Daya beli masyarakat rendah

Adanya libur Nyepi dan Paskah pun tidak mampu menggenjot okupansi. Ia menilai salah satu penyebabnya adalah daya beli masyarakat yang sedang rendah.

Meski begitu, tingkat okupansi hotel dan restoran di Kulon Progo berbanding terbalik dengan jumlah wisatawan yang menembus 100 ribu orang. Menurut Sumantoyo, kebanyakan wisatawan hanya datang berkunjung ke destinasi tanpa menginap.

"Rata-rata lama tinggal (length of stay) wisatawan di Kulon Progo juga hanya 1,7 hari," ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kulon Progo, Sutarman belum lama ini menyampaikan bahwa jumlah wisatawan di libur Lebaran 2026 berhasil melebihi target. Pihaknya memasang target sebanyak 100 ribu wisatawan yang datang.

Adapun realisasinya tercapai sebanyak 100.661 wisatawan. Tercatat ada pertumbuhan sebesar 1,52 persen untuk jumlah wisatawan di libur Lebaran 2026 dibandingkan Lebaran 2025 yang mencapai 99.154 wisatawan.

"Pertumbuhan itu menunjukkan adanya peningkatan minat masyarakat untuk berwisata ke Kulon Progo," kata Sutarman.(alx)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved