Okupansi Hotel Bantul pada Libur Lebaran 2026 Anjlok, Anggota PHRI Menjerit
Ketua PHRI Kabupaten Bantul, Yohanes Hendra, menyampaikan, pada beberapa hari yang lalu, rata-rata okupansi hotel di Bantul sekitar 20-30 persen
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Menjelang momen Libur Lebaran 2026, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengaku menangis lantaran okupansi hotel atau tingkat hunian kamar hotel masih sangat rendah dan belum terpantau adanya kenaikan reservasi.
Ketua PHRI Kabupaten Bantul, Yohanes Hendra, menyampaikan, pada beberapa hari yang lalu, rata-rata okupansi hotel di Bantul sekitar 20-30 persen.
Menurutnya, reservasi hotel di Bumi Projotamansari selama momen libur Lebaran 2026 ini masih di angka sekitar 40-50 persen.
"Kalau Lebaran tahun lalu, okupansi hotel bisa mencapai sekitar 70 persenan lah. Dan kalau tahun 2024 malah sejak H-2 Idulfitri, okupansi hotel sudah penuh," katanya, kepada Tribunjogja.com, Kamis (19/3/2026).
Kendati demikian, Hendra mengaku tidak bisa memastikan kondisi okupansi hotel selama momen libur Lebaran 2026 seperti apa. Bahkan, penyebab penurunan okupansi hotel ini pun tidak bisa diketahui secara pasti.
"Tapi ya kita kembali lagi. Kita tidak tahu, apakah ini pengaruh karena geopolitik pada saat ini. Tapi, kalau bicara mudik kan ini sudah menjadi sebuah culture yang setiap tahun pasti terjadi. Tapi ini jauh lebih berat dibandingkan tahun 2025," jelasnya.
Dikatakannya, pada tahun 2025 kemarin, keadaan ekonomi memang sudah cukup berat dikarenakan adanya pengurangan efisiensi, namun tidak sebesar tahun ini. Kondisi ekonomi lesu itu diperkirakan membuat masyarakat lebih memenuhi kebutuhan primer dibandingkan menginap di hotel.
"Sepertinya, kalau dilihat kondisi sekarang ini lebih kepada dampak dari adanya efisiensi anggaran dibandingkan geopolitik. Artinya, dengan adanya pengurangan atau dibatalkan kegiatan yang dilakukan pemerintah, sehingga berpengaruh pada pendapatan daripada pengusaha, UMKM, dan IKM," ucap dia.
Di sisi lain, ada pula pelaku usaha yang mengandalkan pendapatan dari hasil kerja sama dengan pemerintah. Keuntungan dari pendapatan itu biasanya dipergunakan untuk liburan dan belanja kegiatan lain. Hanya saja, ketika adanya pendapatan menurun, sehingga perekonomian di bidang hospitality terdampak.
"Ya karena dananya enggak cukup, yang biasnya berlibur jadi enggak jadi berlibur. Ini memang mata rantai. Karena kembali lagi saat perekonomian itu anjlok, maka otomatis orang akan mikir memenuhi kebutuhan primer dibanding sekunder dan lainnya," tandas dia.
| Harga BBM Subsidi Stabil, Pelaku Usaha di Bantul: Lega, Tapi Tetap Harus Jaga-jaga, Berhitung Ulang |
|
|---|
| Pengembangan Pansela Wilayah Bantul, Master Plan Disusun: Padukan Konsep Modern |
|
|---|
| Sebanyak 124 SMP dan MTs di Bantul Gelar Tes Kemampuan Akademik |
|
|---|
| Dishub Bantul Lakukan Pemeriksaan KIR Kendaraan Niaga, Ini Hasil Temuannya |
|
|---|
| Dugaan Penyalahgunaan Anggaran di BUMKal Jatimulyo, Pemkab Bantul: Beberapa Oknum Kembalikan Uang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ketua-PHRI-Bantul-Yohanes-Hendra-7524.jpg)