Diskusi Buku di Jogja Didatangi Aparat, Dua Jam Kebebasan Berbicara Mati Suri
Diskusi buku berjudul “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami”didatangi dan diawasi oleh aparat kepolisian
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Diskusi buku “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” yang diadakan di Yogyakarta diawasi aparat kepolisian, meski acara hanya berlangsung dua jam.
- Luviana Ariyanti, editor buku, mengkritik pengawasan tersebut sebagai bentuk pembunuhan kebebasan berbicara, mengingat situasi mirip dengan era Orde Baru.
- Buku ini mengisahkan perjuangan perempuan yang melawan dampak pembangunan yang merugikan mereka, termasuk proyek IKN, PSN, dan banjir rob di Demak.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Diskusi buku berjudul “Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” yang semustinya menjadi ruang transfer pengalaman dan pengetahuan justru menjadi sebuah kekhawatiran bagi penulis maupun penyelenggara.
Pasalnya, diskusi yang dihadiri sekitar 60 hingga 70 orang disebuah toko buku di Kota Yogyakarta pada Senin lalu (22/12/2025) didatangi dan diawasi oleh aparat kepolisian.
Hal itu dibenarkan oleh Luviana Ariyanti sebagai Pemimpin Redaksi dan Penanggungjawab Konde.co sekaligus Editor buku "Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami".
Dia mengatakan, diskusi buku itu hanya berlangsung sekitar dua jam mulai 19.00 WIB sampai 21.00 WIB.
“Tapi polisi nungguin sampai jam 12 malam. Awalnya mereka empat orang terus duduk, menanayakan sudah ada izin belum, kalau belum ya kami akan mengawasi,” kata Luviana, saat dihubungi Tribun Jogja, Rabu malam (24/12/2025).
Sebagai sosok yang pernah hidup diera Orde Baru, tentu saja Luviana merasa bahwa pengawasan pihak kepolisian terhadap diskusi buku sangatlah berlebihan.
Meskipun tindakan represif secara fisik menurutnya belum terjadi pada saat diskusi berlangsung, namun dia mengklaim tindakan pengawasan itu bentuk dari pembunuhan kebebasan berbicara.
“Ini bentuk pembunuhan kebebasan berbicara, memberikan pengetahuan kepada orang lain. Kalau kami gak buat statemen pernyataan sikap takutnya hal gini akan terjadi, terus diawasi. Polisi nungguin itu kan situasi yang sama dengan Ode Baru,” tegas Luviana.
“Ini namanya pembasmian pengetahuan, dulu kan diskusi harus izin, gak boleh diskusi, dibubarkan, baca buku harus sembunyi-sembunyi,” sambungnya.
Luviana melanjutkan, diskusi buku kumpulan peliputan ini dilaksanakan Konde.co berkolaborasi dengan Marjin Kiri serta sejumlah pihak.
Buku Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami" mengulas kisah-kisah perempuan dari berbagai desa yang menolak tunduk ketika pembangunan meminggirkan mereka.
Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara dan Proyek Strategis Nasional (PSN), perubahan iklim, serta keserakahan korporasi, para perempuan melawan dari kebun dan ladang yang tersisa.
Juga dari rumah yang terancam digusur atau tenggelam, dengan tubuh mereka sendiri sebagai perisai terakhir.
Di bawah ancaman kriminalisasi, mereka berdemo, turun langsung mengadang alat berat juga membangun komunitas untuk menyusun siasat bersama.
| Daftar UMK 2026 di 38 Kabupaten dan Kota di Jawa Timur, Kota Surabaya Tertinggi, Situbondo Terendah |
|
|---|
| Kondisi Pendaki Gunung Merapi yang Ditemukan Tewas di Jurang Sedalam 50 Meter |
|
|---|
| Bakmi ‘Ora Enak’ Aryo: Kuliner Malam yang Dicari Wisatawan di Prawirotaman Jogja |
|
|---|
| Harga Emas 25 Desember 2025: Antam, Galeri 24, dan UBS Serempak Naik |
|
|---|
| 75 Ucapan Natal 2025 Bahasa Jawa Lengkap dengan Artinya, Penuh Doa dan Harapan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Diskusi-Buku-di-Jogja-Didatangi-Aparat-Dua-Jam-Kebebasan-Berbicara-Mati-Suri.jpg)