Jogja Bakal Lebih Macet di Libur Natal & Tahun Baru 2026, Ini Pemicunya
Warga Jogja atau Kota Yogyakarta diprediksi akan merasakan kemacetan yang lebih di libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Warga Jogja atau Kota Yogyakarta diprediksi akan merasakan kemacetan yang lebih di libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
- Sebelumnya, Pemerintah Kota Yogyakarta mencatat adanya lonjakan kunjungan wisata ke Kota Gudeg dalam beberapa waktu terakhir.
- Menurut Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, peningkatan itu telah diprediksi sebelumnya dan dipengaruhi oleh faktor kemudahan akses serta pertimbangan efisiensi biaya perjalanan masyarakat.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Warga Jogja atau Kota Yogyakarta diprediksi akan merasakan kemacetan yang lebih di libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Yogyakarta mencatat adanya lonjakan kunjungan wisata ke Kota Gudeg dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, peningkatan itu telah diprediksi sebelumnya dan dipengaruhi oleh faktor kemudahan akses serta pertimbangan efisiensi biaya perjalanan masyarakat.
“Dari rapat-rapat sebelumnya sudah kami prediksi bahwa ke Jogja itu akan terjadi lonjakan kunjungan. Salah satunya karena tol sudah sampai Prambanan, itu menjadi salah satu penyebab juga,” kata Hasto Wardoyo ditemui di Kompleks Kepatihan, Selasa (23/12/2025).
Lebih lanjut Hasto menyebut, selain infrastruktur, faktor ekonomi juga memengaruhi pilihan destinasi wisata masyarakat.
“Banyak orang sekarang ingin efisiensi. Jadi mungkin untuk ke tempat yang lebih mahal, atau ke tempat yang penerbangannya jauh lebih mahal, akan berkurang,” ujarnya.
Ia menambahkan, Yogyakarta masih mudah dijangkau dengan berbagai moda transportasi.
“Kalau dibayangkan, misalnya orang Jakarta mau berlibur, ke Jogja itu masih banyak yang menggunakan jalur darat. Kereta api juga terjangkau. Itu salah satu pengaruhnya,” kata Hasto.
Pengamen ditata
Di tengah meningkatnya aktivitas wisata, Pemerintah Kota Yogyakarta juga melakukan penataan terhadap pengamen di kawasan-kawasan wisata, termasuk Malioboro.
Menurut Hasto, kebijakan tersebut sementara ini berjalan efektif.
“Kalau menurut saya, sementara ini masih efektif. Karena pengamennya sendiri mendapatkan kepastian. Kepastian tempat, kepastian waktu, dan kepastian pendapatan. Tiga kepastian itu yang mereka dapatkan,” ujarnya.
Ia menilai, penataan lebih baik dibandingkan pengamen harus berpindah-pindah tanpa kejelasan. Pemerintah Kota Yogyakarta juga mendorong agar para pengamen dilibatkan dalam berbagai kegiatan resmi.
“Saya juga mengimbau kepada OPD-OPD, kalau ada atraksi atau kegiatan, tolong pengamen itu diundang. Sesering mungkin, sebanyak mungkin,” kata Hasto.
Dengan pelibatan tersebut, kata dia, pemerintah dapat memberikan kepastian bagi para pengamen sekaligus menjaga kualitas atraksi bagi wisatawan.
| Dari Bungkus Tempe ke Baitullah, Tabungan 30 Tahun yang Diperkuat Nilai Manfaat |
|
|---|
| Ada Bangunan Vila Diduga Berdiri di Kawasan Zona Hijau Candi Singo Sleman, DPRD dan Pemda Bisa Apa? |
|
|---|
| Laka Maut Fortuner vs Dua Beat di Jalan Jogja-Solo, 1 Pemotor Tewas |
|
|---|
| Dua Musisi Asal Tunisia Suguhkan Perpaduan Musik Prancis dan Arab di Hotel Tentrem Yogyakarta |
|
|---|
| Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Hari Kamis 23 April 2026 dari St. Tugu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Arus-ke-Jembatan-Kleringan-Dibatasi-Hasto-Minta-Pengurangan-Volume-Kendaraan-Dimulai-dari-Hulu.jpg)