Hadapi Perubahan Iklim, DIY Mantapkan Ketahanan Pangan Jelang Nataru hingga Ramadan
Ketersediaan bahan pokok di DIY dipastikan dalam kondisi aman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Ketersediaan bahan pokok di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipastikan dalam kondisi aman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
- Pemda DIY mengklaim komoditas pangan strategis, mulai dari beras hingga gula, berada dalam situasi stabil meski perubahan iklim dan dinamika produksi terus menambah kompleksitas di lapangan.
TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi produksi, DIY menegaskan posisinya sebagai daerah dengan ketahanan pangan stabil. Menatap tahun baru, pemerintah daerah menggarisbawahi pentingnya proyeksi jangka panjang, termasuk kesiapan menghadapi musim panen dan Ramadan yang tinggal dua bulan lagi.
Ketersediaan bahan pokok di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipastikan dalam kondisi aman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pemerintah daerah menyebut seluruh komoditas pangan strategis, mulai dari beras hingga gula, berada dalam situasi stabil meski perubahan iklim dan dinamika produksi terus menambah kompleksitas di lapangan.
Pemantauan intensif dilakukan oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY di berbagai titik strategis, seperti Pasar Piyungan, Pasar Lelang Cabai Piyungan, Pasar Godean, Pasar Wates, Pasar Playen, hingga pabrik telur PT Janu Putro di Kulon Progo. Dari hasil pengecekan, stok pangan dipastikan aman hingga akhir Desember.
Klaim stabil
Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY, Eling Priswanto, menyebutkan bahwa kondisi harga sembako relatif stabil. Komoditas pokok seperti beras, minyak, dan gula menjaga konsistensi harga, sementara beberapa jenis hortikultura seperti cabai dan bawang merah menunjukkan lonjakan terbatas akibat faktor cuaca dan menurunnya area tanam.
“Untuk beras premium dan medium di Toko Beras Bu Tami, harganya sesuai HET. Di pasar, cabai ada di kisaran Rp80.000 dan bawang merah Rp70.000, yang masih dalam batas wajar,” ujarnya.
Mengacu pada neraca ketersediaan pangan Desember 2025, seluruh komoditas esensial di wilayah DIY masih berada dalam posisi surplus. Meski demikian, Eling menyoroti bahwa masa rawan kenaikan harga diperkirakan justru muncul setelah Nataru, terutama menuju puncak permintaan Ramadan-Idulfitri.
Pada komoditas cabai, kenaikan harga turut dipengaruhi oleh cuaca yang tak menentu. Cuaca ekstrem menyebabkan potensi rontoknya bakal buah sehingga mengurangi produksi.
Selain itu, sebagian petani mengalihkan lahan tanam dari cabai ke padi yang dianggap lebih aman pada periode cuaca basah. Ditambah lagi, beberapa daerah penyangga seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih menata ulang produktivitas pasca bencana, sehingga pasokan ke Jawa ikut terpengaruh.
Di sisi lain, stok beras di gudang Perum BULKOG Kanwil Yogyakarta dinilai sangat mencukupi. Sebanyak 40.400 ton beras tersimpan di empat gudang, termasuk cadangan 300 ton beras komersial.
Bukan hanya itu, bantuan pangan juga terus mengalir ke masyarakat. Untuk periode Oktober–November, sebanyak 6.575 ton beras dialokasikan bagi 328.770 penerima melalui penyaluran pada Desember ini.
Bank Indonesia Perwakilan DIY turut menyoroti pengaruh musim hujan awal yang tiba lebih cepat dari prakiraan. Kelembapan tinggi dan perubahan pola tanam mencapai efek signifikan pada produksi hortikultura, namun tidak cukup untuk mengganggu pasokan secara keseluruhan. Data sistem i-Panen menunjukkan bahwa harga cabai rawit sebenarnya telah melandai pada minggu kedua Desember, menurunkan potensi gejolak jangka pendek.
Untuk itu, penerapan operasi pasar, pasar murah, serta program seperti Warung Mrantasi yang kini beroperasi di 85 titik di Kota Jogja terus diperluas sebagai upaya menahan gejolak harga. Selain memberikan akses pangan murah, intervensi ini juga mengedukasi masyarakat soal konsumsi pangan yang bijak dan tidak terpaku pada satu jenis komoditas saat terjadi lonjakan harga.
Dari serangkaian indikator ini, pemerintah daerah menyimpulkan bahwa ketahanan pangan DIY berada pada jalur aman baik dari segi pasokan maupun kestabilan harga. Meski proyeksi jangka pendek menunjukkan potensi gejolak kecil, terutama untuk komoditas musiman seperti cabai, rentang inflasi DIY hingga 2026 diperkirakan tetap berada pada target nasional 2,5 persen ± 1 persen.
| Korban Tindak Pidana Termasuk Akibat Klitih di DIY Tak Ditanggung BPJS Kesehatan |
|
|---|
| Arya Adrean Pecahkan Rekor Nasional dan Lampaui Rekor SEA Games, Akuatik DIY Beri Bonus Rp20 Juta |
|
|---|
| Tangkal Dampak Negatif Disrupsi Digital, DIY Implementasikan Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah |
|
|---|
| Terdampak Perang, Ekspor DIY Secara tahunan Turun 14,61 Persen pada Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Pemadaman Jaringan Listrik Wilayah DIY Hari Ini 8 Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pedagang-bahan-pokok-di-Pasar-Argosari-Gunungkidul-dok.jpg)