Lebih dari 30 Persen Turis di Sleman Pilih Nginep di Rumah Teman

Rendahnya okupansi hotel berdampak pada realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak hotel dan restoran.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Dok. Pemkab Sleman
WISATA SLEMAN: Foto dok ilustrasi. Wabup Sleman Danang Maharsa saat meresmikan wisata Heritage Tracking Sobo Padesan atau wisata susur sungai Pelang di Padukuhan Jetisan, Kelurahan Hargobinangun, Pakem, Rabu (6/8/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Data Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyebut 32,08 persen wisatawan lebih memilih menginap di rumah keluarga atau teman selama berada di Sleman.
  • Tantangan bagi industri perhotelan dan Pemerintah karena rendahnya okupansi hotel berdampak pada realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak hotel dan restoran.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Lebih dari 30 persen wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sleman, ternyata memilih tidak menginap di fasilitas akomodasi komersial seperti hotel atau penginapan. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyebut 32,08 persen wisatawan lebih memilih menginap di rumah keluarga atau teman selama berada di Sleman

Trend ini tentu menjadi tantangan bagi industri perhotelan maupun Pemerintah Kabupaten. Sebab rendahnya okupansi hotel berdampak pada realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak hotel dan restoran.

Kepala Bidang Pemasaran, Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman, Kus Endarto mengungkapkan, PAD sektor pariwisata di Kabupaten Sleman pada tahun 2025 ditargetkan sebesar Rp409,949 milyar. Jumlah tersebut dengan rincian pajak hotel, restoran dan hiburan Rp404,520 milyar. Sedangkan Rp4,955 milyar berasal dari penerimaan retribusi, dan sisanya berasal dari pendapatan lain yang sah.

Retribusi wisata didapat dari pengambilan retribusi yang dipungut dari gerbang retribusi Kaliurang dan Kaliadem. Hingga bulan November, penerimaan retribusi wisata di Sleman sudah terkumpul Rp4,841 milyar atau setara dengan 97,71 persen dari target tahun ini Rp4,955 milyar. 

Sedangkan penerimaan sumber lain yang sah berasal dari bagi hasil retribusi destinasi Ratu Boko, yang sampai 30 November, telah mencapai Rp301,679 juta atau setara dengan 100,56 persen dari target Rp300 juta.

"Capaian ini tidak lepas dari efektivitas pelaksanaan promosi langsung atau direct promotion yang dilakukan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dalam pelaksanaan table top dan travel dialog. 
Utamanya di dalam Pulau Jawa selama tahun 2025," kata Endarto, Jumat (12/12/2025). 

Capaian pajak hotel

Terkait capaian pajak hotel, berdasarkan data hingga 31 Oktober 2025 telah terkumpul sebesar Rp132,519 milyar atau setara 75,13 persen dari target tahun ini yang dipatok sebesar Rp176,396 milyar. Kemudian realisasi pajak restoran sampai 31 Oktober 2025 sebesar Rp159,977 milyar atau setara dengan 79,15 persen dari target Rp202,124 milyar. Sedangkan capaian pajak hiburan sampai Oktober sebesar Rp22,317 milyar. Jumlah tersebut setara dengan 85,83 persen dari target sebesar Rp26 milyar. 

Menurut Endarto, capaian penerimaan pajak hotel, restoran dan hiburan ini dipengaruhi karena kondisi perekonomian belum membaik. Ditambah kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat dan kebijakan pelarangan study tour dari Pemda Jawa Barat yang diikuti beberapa Pemda yang lain berdampak pada pergerakan wisatawan ke Kabupaten Sleman

Berdasarkan data sementara hingga akhir November, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sleman diangka 7.029,486, yang didominasi  wisatawan nusantara sebesar 96,85 persen atau setara dengan 6.807.924. Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, terdapat penurunan kunjungan sebesar 2,40?ri total 7.202.749. 

Disamping itu, ternyata hanya 38,42 persen wisatawan yang menggunakan hotel baik hotel bintang maupun hotel non bintang saat berkunjung ke Kabupaten Sleman

Sementara sisanya memilih menginap di rumah teman atau keluarga sebesar 32,08 persen, tidak menginap 15,25 % , kemudian menginap diakomodasi jenis lain 11,98 % atau di desa wisata 2,28 % . 

Kemudahan aksesibilitas adanya jalan bebas hambatan, yang rencananya akan menghubungkan dari Jawa bagian barat sampai dengan timur juga berpengaruh terhadap pola berwisata di Kabupaten Sleman

"Muncul fenomena same-day trip atau one-day trip akibat adanya tol, yang mempersingkat waktu tempuh dari Jakarta-Jogja, Jogja-Surabaya, Jogja-Solo, Jogja-Semarang dan sebagainya," kata dia.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved