Produksi Padi Gunungkidul Lampaui Target, Capai 297.674 Ton GKG

Capaian produksi tahun ini mencapai 297.674 ton gabah kering giling (GKG) atau melebihi target tahunan sebesar 291.000 ton GKG.

Tayang:
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Foto dok ilustrasi panen padi di Gunungkidul 

Ringkasan Berita:
  • Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, capaian produksi tahun ini mencapai 297.674 ton gabah kering giling (GKG) atau melebihi target tahunan sebesar 291.000 ton GKG.
  • Keberhasilan ini tidak lepas dari beberapa faktor, seperti pola tanam yang lebih tertata, penggunaan varietas unggul, serta intensifikasi pendampingan oleh para penyuluh pertanian.

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Produksi padi di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2025 tercatat melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, capaian produksi tahun ini mencapai 297.674 ton gabah kering giling (GKG) atau melebihi target tahunan sebesar 291.000 ton GKG.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan akumulasi dari produksi sepanjang tahun 2025. 

“Total produksi mendekati 300.000 ton GKG, atau tepatnya sekitar 297.674 ton,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (10/12/2025).

Faktor yang memengaruhi

Ia menjelaskan, keberhasilan ini tidak lepas dari beberapa faktor, seperti pola tanam yang lebih tertata, penggunaan varietas unggul, serta intensifikasi pendampingan oleh para penyuluh pertanian. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait ketersediaan pupuk bersubsidi yang lebih terjangkau pada tahun ini turut mendorong peningkatan luasan tanam dan serapan input produksi.

“Petani lebih berani menanam karena pupuk subsidi lebih mudah diakses dan harganya turun. Ini berpengaruh pada peningkatan produktivitas,” ujarnya.

Menurut Raharjo, capaian ini juga didorong oleh keberhasilan sebagian besar kelompok tani dalam menerapkan manajemen air dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

" Di sejumlah wilayah irigasi teknis, panen bahkan bisa dilakukan hingga dua kali, meskipun karakter lahan Gunungkidul sebagian besar merupakan lahan tadah hujan," paparnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah kini tengah menyusun strategi musim tanam pertama pada 2026, termasuk memperkuat ketersediaan benih unggul dan memetakan potensi risiko kekeringan.

 “Perubahan iklim tetap menjadi tantangan utama. Karena itu kami mendorong petani memanfaatkan informasi iklim dari BMKG sebelum menentukan pola tanam,” katanya.

Di sisi lain, dia berpendapat meningkatnya produksi padi dipandang sebagai peluang untuk memperkuat cadangan pangan daerah. 

“Dengan capaian ini, kami optimistis produksi padi Gunungkidul tetap terjaga dan mampu mendukung ketahanan pangan daerah,” ujar Raharjo.

Terpisah. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, mengatakan bahwa capaian produksi padi tahun ini menjadi bukti konsistensi kerja petani dan aparatur pertanian di lapangan. Ia menyampaikan bahwa dinas akan terus menjaga stabilitas produksi melalui pendampingan intensif, pemenuhan sarana prasarana pertanian, serta penguatan manajemen sistem tanam.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved