Modern dan Rendah Emisi, Becak Listrik Dinilai Perlu Ekosistem yang Siap
Becak listrik kini dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan sejumlah fungsi digital terintegrasi.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Keberadaan becak listrik dapat berkontribusi menekan polusi, tetapi keberhasilan implementasinya bergantung pada kesiapan sistem pendukung yang menyeluruh.
- Becak listrik kini dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan sejumlah fungsi digital terintegrasi.
- Peralihan ke becak listrik dapat memberikan kenyamanan lebih asalkan skema bantuan dan pendampingan bagi pengemudi diatur secara jelas.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah tingginya emisi kendaraan bermotor di kota-kota besar, becak listrik dinilai dapat menjadi moda ramah lingkungan baru—meski para peneliti mengingatkan bahwa transisinya tidak bisa dilakukan tanpa regulasi dan sistem pengisian daya yang memadai.
Peralihan becak kayuh ke becak listrik merupakan salah satu inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia yang selama ini menggantungkan hidup dari jasa transportasi tradisional tersebut.
Program yang berjalan sejak 2024 itu telah menyalurkan lebih dari 2.000 unit ke berbagai wilayah di Indonesia dan menjadi bagian dari agenda pemberdayaan masyarakat kurang mampu.
Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Dr Ir Dewanti, M.S., menilai program ini sebagai langkah positif dalam mendukung konsep green and sustainable transportation di perkotaan.
Ia menekankan bahwa kota-kota besar masih berhadapan dengan persoalan kemacetan dan emisi karbon yang tinggi, sehingga perlu mencari moda transportasi yang tidak menambah beban pencemaran udara.
“Saya kira, program ini harus disiapkan dengan baik infrastruktur dan regulasi yang diperlukan,” kata Dewanti, Rabu (3/12).
Menurut dia, keberadaan becak listrik dapat berkontribusi menekan polusi, tetapi keberhasilan implementasinya bergantung pada kesiapan sistem pendukung yang menyeluruh.
Becak listrik kini dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan sejumlah fungsi digital terintegrasi.
Dewanti menjelaskan, perangkat tersebut mencakup vehicle tracking, pemantauan baterai, sistem kelistrikan, sistem pembayaran digital, sensor keselamatan, hingga fitur lain yang memudahkan pengemudi maupun penumpang.
Ia menilai teknologi ini berpotensi meningkatkan minat wisatawan untuk kembali memilih becak sebagai ikon transportasi nusantara.
Meski demikian, Dewanti mengingatkan adanya sejumlah tantangan. Skema peralihan becak kayuh ke becak listrik, ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), hingga regulasi lalu lintas yang mengatur operasional becak listrik masih harus dirumuskan dengan matang.
“Selain itu, limbah baterai harus dicarikan jalan keluar untuk meminimalkan dampak lingkungan,” ujarnya.
Baca juga: Respon Publik hingga Evaluasi Pemda DIY Terkait Dua Hari Uji Coba Malioboro Full Pedestrian
Harga dan Pemeliharaan
Harga becak listrik yang mencapai puluhan juta rupiah menjadi kendala tersendiri.
Dewanti menyebut becak kayuh selama ini lebih murah dari sisi operasional, tetapi dinilai kurang manusiawi karena mengandalkan tenaga fisik pengemudinya.
| Puluhan Kendaraan Rendah Emisi Konvoi di Kota Yogyakarta, Wali Kota Hasto: Saatnya Transformasi |
|
|---|
| Menuju Malioboro Bebas Kendaraan Bermotor November 2026, Ini Tantangan Besar Dishub Kota Yogyakarta |
|
|---|
| Rencana Malioboro Bebas Asap Kendaraan Bermotor, Ini Langkah Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta |
|
|---|
| Pemda DIY Buka Ruang Kolaborasi dengan BUMN dan Swasta untuk Pengadaan Becak Listrik di Yogyakarta |
|
|---|
| Sri Sultan HB X: Produksi Berkelanjutan Becak Listrik Malioboro Tunggu Masukan Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Paimin-Andalkan-Becak-Listrik-di-Malioboro-Berharap-Fasilitas-Pengisian-Daya-Dibenahi.jpg)