Guru Honorer SD di Kokap Kulon Progo, Semangat Mengajar Membara Meski Gaji Rp300 Ribu Sebulan

Semangat membara untuk mengajar tak lepas dari peran ayahnya. Saras ingat ayahnya berpesan agar dirinya benar-benar serius menjadi guru

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Alexander Aprita
NASIB GURU HONORER: Saras, guru honorer SDN 1 Pripih, Kapanewon Kokap, Kulon Progo saat memeriksa tugas anak didiknya, Selasa (25/11/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Guru honorer di SDN 1 Pripih Kokap Kulon Progo menceritakan semangatnya menjadi guru walau gajinya hanya Rp300 ribu sebulan.
  • Ia tetap semangat mengajar, bahkan merasa bahagia setiap hari bertemu anak didiknya. 
  • Gaji yang ia terima selama ini merupakan hasil patungan para guru ASN di sekolah itu karena ia belum memiliki NUPTK sehingga belum mendapatkan honor dari BOS

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Alfian Saras Wita (28), sudah 2 tahun terakhir ini mengabdi sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Pripih, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo. Ia hanya berstatus sebagai guru honorer murni, namun tak pernah menurunkan semangatnya untuk mengajar.

Saras awalnya mengajar sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK) di Purbalingga, Jawa Tengah, tempat asalnya. Sekitar tahun 2023, ia pindah ke Kokap mengikuti suaminya yang memang orang sana.

"Saya lalu diinfo kerabat bahwa ada sekolah yang butuh guru untuk pelajar kelas 3," katanya ditemui di SDN 1 Pripih, Selasa (25/11/2025).

Ia pun langsung melayangkan surat lamaran sekaligus bertemu dengan pihak sekolah. Hanya dalam seminggu, ia diperbolehkan mengajar dengan status sebagai guru honorer murni.

Saras pun tak hanya menjadi wali kelas 3, namun juga sempat mengisi posisi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dan wali kelas 4. Ia pun menikmati tugasnya sebagai guru di SDN 1 Pripih.

Semangatnya mengajar bahkan tak terhalang oleh statusnya yang hanya menjadi guru honorer murni. Status itu membuatnya hanya bisa mendapatkan upah bulanan sebesar Rp 300 ribu.

"Sebenarnya sangat kecil, tapi bagi saya ya cukup saja, yang penting bisa mengajar," ujar ibu anak 1 ini.

Pesan ayah

Semangat membara untuk mengajar tak lepas dari peran ayahnya. Saras ingat ayahnya berpesan agar dirinya benar-benar serius untuk menjadi guru, mengingat ia lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Selain karena pesan ayahanda, ia juga merasakan kebahagiaan tersendiri saat bertemu dengan anak didiknya. Ada begitu banyak kesan yang ditinggalkan hingga membuatnya betah mengajar.

"Waktu saya cuti melahirkan, anak-anak datang menjenguk, rasanya senang sekali," kata Saras sambil tersenyum sumringah.

Kebahagiannya menjadi guru bukan tanpa konsekuensi, sebab ia harus meninggalkan anaknya yang baru berumur 2 bulan setiap harinya. Sedangkan suaminya bekerja sebagai pramudi di sebuah perusahaan.

Namun Saras mengatakan apa yang ia lakukan juga demi anak kandung dan anak-anak didiknya. Sebab sesuai cita-citanya, ia ingin ikut mencerdaskan anak-anak sejak usia dini.

"Saya juga berharap para guru bisa lebih sejahtera ke depannya," ujarnya.

Honor dari iuran guru

Kepala Sekolah SDN 1 Pripih, Mujiasih mengatakan Saras belum memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan). Alhasil, ia tidak bisa mendapatkan honor dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved