Karya Limbah Kaca Ivan Bestari Menembus Panggung Seni Internasional
Ivan berharap dapat membangkitkan kembali minat masyarakat Indonesia untuk mengolah limbah kaca menjadi karya seni
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Ivan Bestari adalah pelopor yang menggunakan limbah kaca botol bekas untuk menciptakan karya seni tiga dimensi,
- Mengatasi karakter kaca yang rentan dengan membuat karya besar berdimensi, tetapi bervolume tipis dan jalinan, menjadi ciri khas karya Ivan.
- menorehkan karier yang melanglang buana, memamerkan karya seni kacanya di panggung internasional.
TRIBUNJOGJA.COM -- Ivan Bestari Minar Pradipta (42), seniman kelahiran Yogyakarta telah menorehkan namanya sebagai salah satu pelopor seni rupa di Indonesia yang fokus pada pemanfaatan limbah kaca.
Melalui tangan terampil lulusan Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) ini, potongan limbah kaca botol bekas diubah menjadi objek seni tiga dimensi yang indah dan rumit.
Awal perjumpaan Ivan dengan teknik mengolah kaca terjadi secara tidak sengaja pada tahun 2011, saat ia masih menempuh pendidikan di Jurusan Desain Produk UKDW.
Ia sering melewati sebuah ruko kecil di Condong Catur dengan papan nama CV. Glass Blower.
Setelah memberanikan diri mampir, ia bertemu dengan Sunaryo Bernastowo, yang kemudian menjadi guru pertamanya dalam mengolah kaca.
Usaha Sunaryo fokus pada pembuatan dan perbaikan perlengkapan laboratorium kimia yang terbuat dari kaca, menjadikannya salah satu pelaku usaha langka yang mampu menciptakan kreasi custom sesuai kebutuhan pemesan di Yogyakarta.
“Di sana saya belajar tentang dasar-dasar pengolahan tabung kaca,” ucap Ivan, Kamis, (19/11/2025).
Ia juga bercerita bahwa alat bakar kaca yang ia pakai pertama kali untuk mengeksplorasi bentuk dan tekstur lelehan kaca adalah buatan sang guru tersebut.
Karya-karya Ivan berawal dari eksperimen sederhana yang ia refleksikan sebagai "doodling" atau kebiasaan membuat coretan sejak kecil, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tiga dimensi.
Ia menghabiskan waktu setahun lebih untuk eksplorasi dan hanya menghasilkan bentuk-bentuk seperti ranting, sebelum masuk ke karya yang lebih kompleks.
Kurang lebih sudah 14 tahun Ivan bergelut dalam kesenian kaca.
Baginya limbah kaca, adalah material yang menantang dan Ivan menggambarkannya karakter bahan tersebut "nyebelin" (merepotkan) karena sifatnya yang rentan akan thermal shock.
Pemuaian dan penyusutan yang tidak serentak saat proses pendinginan sering kali membuat karya pecah sendiri setelah dingin, terutama untuk objek-objek berdimensi besar.
Untuk menyiasati batasan ini, Ivan mengembangkan strategi dengan membuat karya yang besar secara dimensi, tetapi memiliki volume kaca yang tipis dan jalinan, seperti struktur jaring laba-laba.
Saat ini, Ivan dikenal melalui Otakatik Creative di Yogyakarta dengan hasil produk karya seni patung hingga aksesoris (anting, liontin, gelang).
Salah satu aliran patungnya yang khas adalah Net Working, di mana ia menganyam jaring-jaring kaca tipis yang dibentuk menyerupai objek alam seperti akar pohon, dedaunan, hingga berbagai jenis serangga (seperti semut dan belalang).
Seluruh warnanya dihasilkan dari peleburan kaca limbah.
Menembus Batas Seni Kaca Indonesia
Pada tahun 2012, Ivan mengunggah karyanya ke web galeri online dan mendapatkan respons luar biasa, termasuk ditampilkan di frontpage situs tersebut, yang memicu semangatnya untuk terus berkarya.
Ivan diundang untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran dan demo langsung (live demo) flameworking di tingkat nasional dan internasional.
Karyanya telah melanglang buana, dipamerkan di Surabaya, Jakarta, Singapura, hingga Saint Petersburg, Rusia pada 2016.
Ia juga pernah diundang ke Istanbul, Turki, dalam rangka International Year of Glass PBB dan berkolaborasi dengan seniman kaca mancanegara seperti Hannah Gibson dari Inggris.
Pengalaman berinteraksi dengan seniman kaca dari berbagai negara seperti master pembuat serangga dari Amerika bernama Wesley Fleming dan seniman Turki bernama Serbay memberikannya ilmu baru, termasuk soal teknis pengepakan karya agar utuh sampai tujuan.
Di Indonesia, Ivan sempat tidak percaya diri menyebut dirinya sebagai seniman kaca karena seni kaca yang umum dikenal adalah kaca patri atau lukis kaca, bukan anyaman kaca dari limbah seperti karyanya.
Atas dasar keprihatinan terhadap minimnya ruang kreatif dan masalah limbah kaca di Indonesia, Ivan menggagas dan menyelenggarakan Indonesia Glass Art Festival (IGAF) pada tahun 2022, yang terdaftar sebagai acara dalam kalender International Year of Glass (IYOG) PBB.
Melalui inisiatif ini dan karyanya yang mendunia, Ivan berharap dapat membangkitkan kembali minat masyarakat Indonesia untuk mengolah limbah kaca menjadi karya seni. (MG|Axel Sabina Rachel Rambing).
Baca juga: Seniman Asal Yogya dan London Berkolaborasi Mengolah Limbah Kaca
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ivan-Otakatik.jpg)