Kata Sri Sultan HB X Tanggapi Keracunan MBG yang Kembali Berulang

Menurut Sri Sultan HB X, lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di lapangan menjadi salah satu faktor pemicu insiden keracunan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. 

Menurut Sri Sultan HB X, risiko keracunan dapat diminimalkan bila dapur pengolahan diawasi dengan cermat oleh orang yang memahami proses memasak dan penyimpanan bahan makanan.

Ia menilai, pengawasan administratif tidak cukup jika tidak diimbangi pemahaman teknis di lapangan.

“Jadi hal-hal seperti itu mestinya dihindari. Sekarang masalahnya tinggal di pelaksanaan di lapangan. Bapak-bapak atau ibu-ibu, kan saya ngawasi bapak-bapak—orangnya tahu di dapur siapa? Meskipun dokter, orang tidak tahu apa yang terjadi di dapur. Mungkin tidak paham hal-hal seperti itu. Tapi kalau ibu-ibu, kan mungkin lebih mengerti. Jadi harus telaten untuk mengawasi itu saja,” tutur Sultan.

Ia menambahkan, pengawasan yang tidak disertai pemahaman teknis tentang keamanan pangan berpotensi menyebabkan kasus serupa terulang di masa mendatang.

“Selama kondisi di dapur itu diawasi, tapi tidak pernah paham bahwa daging bisa berubah biru kalau dibiarkan beberapa jam, ya hal seperti itu akan tetap terjadi kapan pun,” pungkas Sri Sultan HB X.

Guru Jadi Korban

Tidak hanya siswa, sejumlah guru di Gunungkidul juga menjadi korban dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Mereka disebut mengalami gejala lebih dulu setelah mencicipi hidangan yang disiapkan dapur pelaksana, sebelum makanan itu disajikan kepada para siswa. 

“Iya, karena diminta untuk mencicipi, maka keracunan lebih dulu pada jam 2, baru anak-anak jam 3,” ujar Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, Kamis (30/10/2025).

Menurut dia, praktik mencicipi hidangan itu bukan inisiatif pribadi, melainkan bagian dari prosedur kontrol mutu yang diatur oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Arahan tersebut meminta dapur pelaksana atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyediakan porsi uji rasa untuk memastikan kualitas makanan.

“Karena memang BGN yang meminta kan pada waktu itu, sehingga dapurnya memberikan porsi untuk mencicipi dan mereka juga keracunan,” tutur Endah.

Lebih lanjut Endah mengatakan, pihaknya berupaya memastikan sistem penyediaan makanan bergizi bagi siswa benar-benar aman dan memenuhi standar kebersihan.

“Kami, Jumat akan panggil seluruh kepala dapur (SPPG),” ujar Endah.

Evaluasi Menyeluruh

Pemanggilan seluruh kepala dapur pelaksana MBG itu, menurut Endah, menjadi bagian dari langkah evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program.

Pemkab Gunungkidul ingin memastikan rantai penyediaan bahan pangan, proses pengolahan, hingga pendistribusian makanan berlangsung sesuai pedoman keamanan pangan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved