Pemuda Bantul Sulap Sampah Plastik Jadi Casing Ponsel hingga Kain Tenun
Ketertarikannya bermula saat duduk di bangku SMA. Dikko mengubah limbah keramik menjadi kursi taman.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
Kedua, plastik harus melalui proses penekanan atau pressing agar strukturnya kuat dan teksturnya tidak bergelombang.
Hal serupa diterapkan Dikko pada sistem alat tenun. “Kami memodifikasi dari langkah-langkah umum proses menenun,” jelasnya.
Menurut Dikko, kunci utama keberhasilan adalah ketekunan. Proses coba dan gagal tidak bisa dihindari, tetapi harus dihadapi dengan semangat memperbaiki setiap kendala yang muncul.
Perjalanan mengembangkan sistem tenun plastik di Sawokecik dimulai dengan perjuangan memberi pengetahuan dasar menenun kepada ibu-ibu di sekitar desa.
“Kami memang tidak punya budaya tenun di sini, jadi diajarkan dari awal,” terangnya.
Kain tenun dengan pola rumit awalnya terasa sulit. Namun Sawokecik mendekati mereka secara perlahan dan persuasif dengan memberi contoh yang mudah diikuti.
Proses dimulai dari memotong plastik hingga membentuk benang, barulah kemudian menenunnya menjadi lembaran kain. Pengetahuan itu berkembang lewat metode saling ajar di antara para ibu.
“Mereka kemudian saling tukar pengalaman,” imbuh Dikko.
Pantang Pasrah pada Masalah Sampah
Masalah sampah memang tidak bisa diselesaikan hanya oleh Dikko dan Sawokecik. Setiap hari, gunungan sampah terus datang tanpa diundang ke Tempat Pembuangan Akhir.
Ia sadar proses daur ulang yang dilakukannya belum mampu menjawab semuanya.
Namun alih-alih pasrah, Dikko memilih untuk tetap optimis. Melalui Sawokecik, ia mengadakan Edukasi Ekowisata yang mengajarkan bagaimana pengolahan sampah bisa dimulai dari rumah.
Konten edukasi yang terus disebarkan melalui media sosial Sawokecik pun menjangkau banyak anak muda.
“Itu sangat meningkatkan optimisme kami. Banyak anak muda mulai peduli terhadap lingkungan,” ucap Dikko. (MG Sofia Natalia Zebua)
| 15 Tahun Ikut Merawat Jogja Istimewa |
|
|---|
| Pengelolaan Sampah Plastik Berbasis Pemberdayaan Perempuan Desa Prima di Kawasan Wisata Parangtritis |
|
|---|
| Review Kamar di ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta: Perpaduan Kenyamanan, Seni, dan Kemewahan |
|
|---|
| Imbas Plastik Mahal, Pengusaha Sablon Kemasan Naikkan Ongkos Produksi |
|
|---|
| Mencari Alternatif Impor Bahan Baku Plastik di Luar Timur Tengah: Tantangan di Depan Mata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Produk-daur-ulang-sampah-dari-Sawokecik.jpg)