Suhu Panas Jogja

Suhu Panas Tertinggi Daerah Istimewa Yogyakarta, Bantul 37°C, Kota Jogja 35,52°C

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengungkap penyebab cuaca panas ekstrem yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Iwan Al Khasni
Dok Tribunjogja.com
Pada beberapa hari terakhir sebagian besar warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya merasakan suhu panas. 

Tribunjogja.com Yogyakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengungkap penyebab cuaca panas ekstrem yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beberapa hari terakhir. 

Puncaknya terjadi pada Senin, 13 Oktober 2025, yang tercatat sebagai hari terpanas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Menurut Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta, Warjono, suhu tinggi ini dipicu oleh fenomena kulminasi maksimum atau hari tanpa bayangan, di mana posisi matahari berada tepat di atas kepala sehingga radiasi matahari jatuh tegak lurus ke permukaan bumi.

Akibatnya, intensitas panas meningkat signifikan dibandingkan hari-hari biasa.

Berdasarkan data BMKG Yogyakarta berikut catatan suhu tertinggi lima wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta:

1. Kabupaten Bantul mencatat suhu tertinggi mencapai 37,00°C.

2. Kota Yogyakarta menyusul dengan suhu 35,52°C.

3. Kabupaten Sleman dengan 34,62°C. 

4. Wonosari di Kabupaten Gunungkidul mencatat suhu 33,53°C, dan 

5. Kecamatan Wates di Kabupaten Kulon Progo berada di angka 32,22°C.

Warjono menambahkan bahwa suhu maksimum harian memang cenderung meningkat saat kulminasi berlangsung, menjadikan momen ini sebagai salah satu indikator penting dalam memahami pola cuaca ekstrem di wilayah tropis seperti Yogyakarta.

Baca juga: Masuki Peralihan Musim, 10 Alat Peringatan Dini Bencana di Gunungkidul Tak Berfungsi Optimal

Penjelasan Hari Tanpa Bayangan

Berdasarkan keterangan dari BMKG, Hari tanpa bayangan, atau disebut juga kulminasi utama, adalah fenomena astronomis ketika posisi Matahari berada tepat di atas kepala pengamat (di titik zenit). 

Pada saat itu, bayangan benda tegak akan tampak “menghilang” karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. 

Fenomena ini biasanya berlangsung sekitar 30 detik sebelum dan sesudah waktu puncak kulminasi di masing-masing wilayah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved