Masuki Peralihan Musim, 10 Alat Peringatan Dini Bencana di Gunungkidul Tak Berfungsi Optimal
Menurut dia, sebagian besar alat tidak bekerja maksimal karena aki sudah aus dan tidak lagi mampu menopang sistem.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA,COM, GUNUNGKIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat sepuluh dari 30 unit Early Warning System (EWS) tanah longsor dan banjir yang terpasang di wilayah rawan bencana tidak berfungsi secara optimal.
Kondisi ini disebabkan minimnya perawatan, terutama pada komponen aki yang mengalami tekor.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, kerusakan tersebut terdeteksi saat petugas melakukan pengecekan rutin. Menurut dia, sebagian besar alat tidak bekerja maksimal karena aki sudah aus dan tidak lagi mampu menopang sistem.
“Dari 30 unit EWS yang kami periksa, ada 10 yang bermasalah pada bagian aki. Kondisi ini menghambat fungsi peringatan dini yang seharusnya bisa segera memberi sinyal saat terjadi potensi bencana,” ujarnya, Rabu (15/10/2025).
Purwono menjelaskan, tanggung jawab pemeliharaan EWS sebenarnya telah diserahkan kepada pemerintah kalurahan setempat. Meski demikian, belum semua wilayah melakukan perawatan berkala sesuai anjuran.
"Kami upayakan perbaikan alat sistem pendeteksi dini bencana itu secara bertahap. "Nanti upaya perbaikan akan kami lakukan dengan menggandeng Pemkal dan FPRB setempat,"ungkap dia.
Sementara itu, Kepala Bidang Logistik BPBD Kabupaten Gunungkidul Sumadi menuturkan pihaknya membagi tiga kategori pemetaan lokasi rawan bencana di Kabupaten Gunungkidul, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Adapun, wilayah yang termasuk rawan bencana kategori rendah meliputi Kapanewon Gedangsari dan Girisubo.Kemudian, kategori sedang meliputi Kapanewon Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, Paliyan, Wonosari, Playen, Nglipar, Ponjong, Semin, Ngawen, dan Semanu.
"Sedangkan, yang masuk kategori tinggi yakni Patuk, Karangmojo, sebagian wilayah Playen dan Wonosari. Adapun, potensi bencana yang terjadi saat peralihan musim ini, di antaranya tanah longsor, banjir, angin kencang, hingga angin puting beliung," paparnya.
Guna mengurangi risiko dari cuaca ekstrem di masa panca roba, ia mengimbau kepada Masyarakat untuk terus memperbaharui perkembangan cuaca lewat BMKG. Selain itu, juga dilakukan upaya gotong royong membersihkan saluran drainanse di sekitar rumah sehingga aliran dari air hujan dapat lancar dan tidak terjadi genangan atau banjir.
“Antisipasi juga dapat dilakukan dengan memangkas dahan dan ranting pohong yang telah lapuk atau rindang. Tujuannya, untuk mengurangi risiko pohon tumbang,” katanya.
Pihaknya juga melakukan kesiapsiagaan dengan menyiapkan personel dan logistic untuk membantu masyarakat yang terkenda dampak dari cuaca ekstrem.
“Sudah kami persiapkan dan dibutuhkan sewaktu-waktu akan segera meluncur ke lokasi kejadian guna memberikan bantuan,” urainya (ndg)
| Mahasiswa UAJY Tembus Final Global YDTC : Hadirkan Solusi Banjir Berbasis AI |
|
|---|
| Anggota Satpol PP Gunungkidul Nyambi Jadi Maling, Rusak CCTV Demi Hilangkan Jejak |
|
|---|
| PKB DIY Angkat Sosok 'Kartini Nyata', Perjuangan Perempuan Inspiratif dari Berbagai Wilayah di DIY |
|
|---|
| Nomor Kanal Aduan WhatsApp Disparekrafpora Gunungkidul, Wisatawan Bisa Laporkan soal Layanan Wisata |
|
|---|
| Hanya Sisakan 24 Amplop, Pencuri di Gunungkidul "Kuras" Kotak Sumbangan Pengantin Saat Subuh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ft-ugmdan-bnpb-perkuat-kerja-sama-pemasangan-sistem-peringatan-dini-longsor-dan-banjir.jpg)