Geliatkan Pasar Tradisional Sebagai Pilar Ekonomi Kerakyatan

Peringatan HUT ke-269 Kota Yogyakarta pada 7 Oktober 2025 diharapkan dapat menjadi momentum pengungkit perekonomian di pasar rakyat

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Dok. Pemkot Yogya
PANTAU BAPOK: Wali Kota Yogya bersama Sekda DIY dan jajaran TPID DIY, saat menyambangi Pasar Beringharjo, Jumat (14/3/25). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Peringatan HUT ke-269 Kota Yogyakarta pada 7 Oktober 2025 diharapkan dapat menjadi momentum pengungkit perekonomian di pasar rakyat.

Kalangan pedagang menyampaikan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah strategis, untuk menggeliatkan kembali denyut perekonomian yang tengah lesu. 

Alfian Rizky, seorang pedagang di Pasar Pathuk, Kota Yogyakarta, mengungkapkan, bahwa kondisi pasar tradisional dewasa ini cukup mengkhawatirkan.

Menurutnya, butuh kebijakan yang lebih pro-pasar tradisional dalam semangat hari jadi kota, agar kembali bangkit serta menjadi pilar utama penggerak ekonomi kerakyatan.

​"Untuk akhir-akhir ini pasar agak lesu. Itu mungkin dari pemerintah sendiri bagaimana caranya supaya pasar rakyat bisa hidup lagi," ujar Alfian.

​Kelesuan ini, ujar Alfian, tidak hanya terjadi di satu lokasi. Ia yang juga mengambil dagangan di Pasar Kranggan dan Pasar Bringharjo, menemukan fenomena serupa, yakni suasana yang cenderung sepi.

​​Dirinya menduga, salah satu penyebab kelesuan ini adalah pergeseran minat warga masyarakat menuju retail modern, yang belakangan semakin menjamur. 

" Apakah karena bergeser ke supermarket yang mungkin dianggap lebih higienis, atau itu ada hubungannya dengan situasi ekonomi, saya juga tidak tahu," tambahnya.

Meski demikian, Alfian mencatat adanya disparitas yang jelas, di mana suplai untuk resto-resto besar (menengah ke atas) sampai saat ini masih terbilang ramai.

Baca juga: HUT ke-269 Kota Yogyakarta, Momentum Menuju Kota Ramah Jiwa

Namun, transaksi tersebut seringkali dilakukan melalui suplai langsung, bukan melalui aktivitas di pasar rakyat yang lebih didominasi kalangan menengah ke bawah.

"Terasa ya, dampak kelesuan ekonomi itu. Kalau menengah ke atas malah ramai, tapi tidak ke pasar, dia lebih suplai langsung diantar. Jadi, aktivitas di pasar sendiri sepi," tegasnya.

Menanggapi tantangan ini, Alfian menekankan, bahwa momentum HUT ke-269 Kota Yogyakarta harus dijadikan titik awal untuk mendorong inovasi di pasar rakyat. 

Ia memandang, kurangnya inovasi menjadi salah satu penghambat utama, terutama karena minimnya keterlibatan kalangan generasi muda.

​Alfian juga mengusulkan, supaya pemerintah dapat memfasilitasi pedagang dengan akses permodalan yang mudah dan disertai edukasi.

​"Mungkin ini juga, beberapa kemarin kan ada, mungkin kalau pendanaan-pendanaan itu bisa kerja sama dengan bank-bank yang sekarang katanya dari Menkeu memberikan keringanan," ujar Alfian, merujuk pada informasi pinjaman tanpa agunan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved