597 Kasus Kanker Payudara di DIY, Pink Fest 2025 Jadi Ajang Edukasi dan Solidaritas

Acara puncak IGP di Yogyakarta dirancang dengan tema khusus PINK FEST, yang menyasar generasi muda, khususnya Gen Z.

|
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Perwakilan Lovepink dan Dema Justisia FH UGM saat konferensi pers peluncuran Pink Fest 2025 di Yogyakarta, Kamis (11/9/2025). Agenda ini dihadirkan sebagai wadah dukungan dan edukasi tentang kanker payudara, sekaligus upaya mengajak generasi muda lebih peduli terhadap deteksi dini. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dengan 597 kasus sepanjang 2024, kanker payudara menjadi jenis kanker terbanyak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Menjawab kenyataan itu, Lovepink menghadirkan Indonesia Goes Pink (IGP) 2025 di Yogyakarta melalui PINK FEST sebagai ruang edukasi, dukungan, dan solidaritas lintas generasi bagi para penyintas serta pejuang kanker payudara.

Kegiatan yang akan digelar di Gelanggang Inovasi & kreatifitas (GIK) UGM, Minggu (26/10) mendatang ini mengusung tema besar yakni "Living in Abundance: Running Together, Inspiring Hope". IGP 2025 mengajak masyarakat untuk merayakan hidup dengan penuh syukur, berbagi kekuatan, sekaligus saling menginspirasi. 

Lovepink menekankan bahwa perjuangan melawan kanker payudara tidak hanya milik individu, tetapi merupakan gerakan bersama yang memerlukan dukungan lintas generasi.

“Lovepink adalah komunitas yang lahir dari para penyintas kanker payudara dengan tujuan utama memberikan dukungan emosional, edukasi, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini. Visi kami adalah menciptakan lingkungan yang penuh kepedulian, di mana para warrior, survivor, dan keluarga mereka merasa diperhatikan dan diberdayakan. Lewat program yang konsisten kami jalankan setiap tahun, Lovepink berkomitmen untuk terus menumbuhkan solidaritas, menyebarkan harapan, serta memfasilitasi perempuan untuk lebih peduli,” ujar Dede Gracia, Chairwoman Lovepink, Kamis (11/9/2025).

Acara puncak IGP di Yogyakarta dirancang dengan tema khusus PINK FEST, yang menyasar generasi muda, khususnya Gen Z.

Melalui keterlibatan civitas akademika Universitas Gadjah Mada, pelajar, mahasiswa, hingga komunitas muda, Lovepink ingin menanamkan kesadaran pentingnya deteksi dini sejak usia muda.

“IGP kami hadirkan di Yogyakarta untuk mendekatkan isu kanker payudara kepada anak muda, agar mereka tumbuh dengan kesadaran dan kepedulian akan pentingnya deteksi dini. Kami percaya, Gen Z adalah agen perubahan yang mampu menyebarkan semangat positif lebih luas lagi. Kehadiran mereka di PINK FEST tidak hanya menambah semarak acara, tetapi juga menjadi simbol bahwa perjuangan ini akan terus diwariskan lintas generasi,” ungkap Farida, Ketua Pelaksana Indonesia Goes Pink 2025.

Hadirnya PINK FEST di Yogyakarta juga memiliki makna tersendiri bagi komunitas penyintas kanker payudara.

Saat ini, Lovepink DIY menaungi sekitar 30 warrior berusia 43–55 tahun dan 263 survivor berusia 27–80 tahun. 

Sebagian besar menjalani perawatan di RSUP Dr Sardjito, RS UGM, RS Panti Rapih, RS Bethesda, dan RSAU Hardjo Lukito.

Banyak di antara mereka yang datang dari luar Yogyakarta, seperti Magelang, Klaten, Purworejo, Kutoarjo, hingga Purwokerto.

Kehadiran PINK FEST menjadi ruang temu, wadah dukungan emosional, sekaligus penguat solidaritas lintas daerah.

Adapun rangkaian PINK FEST 2025 mencakup tiga agenda utama yakni Pink Walk sejauh 2,5 kilometer, simbol solidaritas dan dukungan bagi penyintas serta pejuang kanker.

Berikutnya Pink Run sejauh 5 kilometer dengan rute melintasi kawasan kampus UGM, menggambarkan kekuatan dan optimisme peserta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved