Dokter Anak Ingatkan Bahaya Anemia pada Anak: Dampaknya Bisa Tentukan Masa Depan

Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah serius di Indonesia, terutama pada anak-anak.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Pabrik Sarihusada di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Rabu (27/8/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAAnemia defisiensi besi masih menjadi masalah serius di Indonesia, terutama pada anak-anak.

Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi anemia pada anak usia 6–59 bulan mencapai 38,4 persen—salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.

Dokter Spesialis Anak, dr. Devie Kristiani, Sp.A, mengingatkan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap enteng.

“Anemia defisiensi besi sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa menentukan masa depan seorang anak. Zat besi tidak hanya membentuk hemoglobin, tetapi juga berperan dalam pembentukan neurotransmitter penting di otak yang memengaruhi konsentrasi, daya ingat, dan semangat belajar,” ujarnya saat ditemui di Yogyakarta.

Ia menambahkan bahwa anak-anak yang kekurangan zat besi juga berisiko mengalami gangguan perkembangan psikomotor, yang pada akhirnya berdampak pada prestasi akademik di sekolah.

Peringatan ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan memperingati 71 tahun berdirinya Sarihusada, perusahaan nutrisi yang berdiri di Yogyakarta pada masa pasca-Perang Dunia II untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia.

Baca juga: Marak Keracunan MBG, Dinkes Gunungkidul Bereaksi, Orang Tua Khawatir: Anak Kami Jadi Taruhannya

Kini, perusahaan tersebut menegaskan komitmennya untuk mendukung target nasional menciptakan Generasi Emas 2045 dengan fokus pada pencegahan anemia sejak dini.

VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, menyampaikan bahwa Yogyakarta bukan sekadar tempat kelahiran perusahaan, tetapi juga menjadi pusat berbagai inisiatif sosial dan kesehatan masyarakat.

“Yogyakarta memiliki makna historis yang sangat penting sebagai kota awal solusi nutrisi anak. Kami menjalankan program-program seperti Duta 1000 Pelangi, PAUD Generasi Maju di Taman Pintar, serta kolaborasi dengan Pemda DIY dalam upaya pencegahan stunting dan penanggulangan bencana,” ujarnya.

Pencegahan anemia sendiri menjadi bagian dari komitmen ini.

Sejumlah inovasi, termasuk dalam pengembangan produk nutrisi, disebut-sebut telah dilakukan untuk menjawab kebutuhan anak Indonesia.

Namun lebih dari itu, edukasi dan kesadaran orang tua terhadap pentingnya zat besi dalam tumbuh kembang anak tetap menjadi hal mendasar yang harus diperkuat.

“Perlu pemahaman yang lebih luas dari masyarakat bahwa anemia bukan hanya tentang lelah atau lesu. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita,” tegas dr. Devie. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved