Tradisi Dugderan : Pasar Rakyat Bantu UMKM Warga Semarang

Dugderan diawali dengan pasar rakyat yang diadakan 13 hari sebelum ramadhan, yang dilanjut dengan karnaval dan arak-arak warag ngendog

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
ist
Tradisi Dugderan : Pasar Rakyat Bantu UMKM Warga Semarang 

DUGDERAN merupakan tradisi warga semarang untuk menyambut datangnya bulan ramadhan. Tradisi ini kembali diadakan setelah vacum dua tahun karena pandemi.

Dugderan diawali dengan pasar rakyat yang diadakan 13 hari sebelum ramadhan, yang dilanjut dengan karnaval dan arak-arak warag ngendog.

Ratusan penjual makanan, mainan, bahkan pakaian dan kerajinan budaya memenuhi area alun alun masjid agung semarang.

Makanan dan minuman yang dihadirkan juga beragam, mulai dari makanan tradisional khas Indonesia hingga makanan kekinian menjadi icon yang banyak diminati pengunjung.

Pedagang Tahu Walik yang berdomisili semarang, Wahid menyatakan tradisi ini sudah ada sejak dulu tapi bedanya kalau sekarang ada pasar rakyat ini jadi dugderan terasa lebih meriah.

Bukan hanya menarik mata masyarakat lokal namun rupanya pasar rakyat ini juga membantu bagi warga lokal.

Melalui kebudayaan dugderan ini, ekonomi warga juga terbantu karena banyaknya pengunjung yang memenuhi area kampung kauman.

Salah satunya yang dialami oleh, penjual sosis dan bakso bakar, Nur Aini.

“Yang saya rasakan semenjak ada pasar ini si jadi lebih rame, karena kan jadi banyak yang lewat meskipun saya ga buka stand di lokasi dugderannya sendiri,” kata aini.

Bukan hanya sekedar dampak dari ekonomi, namun pasar rakyat dugderan ini juga rupanya membangkitkan vibes ramadhan yang paling dinanti-nanti oleh warga sekitar.

"Adanya pasar rakyat ini sangat berkesan buat saya, karena jaman dulu kan memang itu sudah tradisi, sebelum puasa ada Dugderan, terus mendekati puasa ada karnaval. Semoga pasar rakyat ini terus ada setiap tahunnya, dan lebih beraneka ragam penjualnya," imbuh Aini.

Dugderan Pasar Rakyat ini ternyata bukan hanya memberikan dampak secara budaya, namun juga membantu perekonomian warga dan memberikan kesan spiritual tersendiri yang akan diingat dan dinanti-nantikan oleh masyarakat setiap tahunnya. (*)


*Oleh: Naela Izati, Tsabita Maulida Bahari Komunikasi dan Penyiaran Islam (2020)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved