Citizen Journalism
Murid MTsN Yogyakarta 1 Belajar Membuat Batik Jumputan
Melalui pelajaran Seni Rupa, MTsN Yogyakarta 1 mengenalkan batik kepada siswanya.
Lilis Ummi Faiezah Spd MA
Humas dan Guru MTsN Yogyakarta 1
BATIK adalah seni adiluhung bangsa yang keberadaannya agak terpinggirkan akibat lebih dikenalnya seni kontemporer oleh generasi muda.
Kebanyakan generasi muda mengenal batik lebih pada keindahannya motifnya saja, tanpa mengetahui filosofi luhur dari setiap corak batik.
Padahal, setiap corak batik berisi pesan sarat makna yang sangat berguna dalam kehidupan manusia.
Jadi, bukan sekadar mengikuti tren yang ada bila saat ini MTsN Yogyakarta 1 mengenalkan seni batik kepada para murid. Semua itu karena madrasah ingin ikut berperan melastarikan seni batik yang merupakan warisan budaya bangsa.
Melalui pelajaran Seni Rupa, MTsN Yogyakarta 1 mengenalkan batik kepada siswanya. Tidak sekadar jenis batik, namun pada cara membuat batik itu sendiri.
Meskipun agak rumit, para siswa MTsN Yogyakarta 1 terlihat antusias dan senang karena mereka dilibatkan untuk membuat karya batik dari awal sampai terbentuknya kain bermotif batik yang indah. Kunci utama membatik tidak sekadar pada teori pembuatannya saja namun juga pada ketelatenan dan ketekunan dalam membuatnya.
Sebagai pemula, para siswa ini diajari membuat karya batik ikat celup, yang lebih dikenal dengan nama jumputan. Motif jumputan ini dinilai lebih mudah karena hanya menggunakan teknik mengikat dan kemudian mencelup.
Teknik ini sangat cocok bagi pembatik pemula seperti para siswa setingkap SMP. Bahan yang dibutuhkanpun relatif sederhana.
Para siswa hanya membutuhkan kain polos putih, batu-batuan kecil, koin atau kelereng, karet pengikat, pewarna kain, cuka dan garam.
Proses pertama dalam membuat batik jumputan adalah mendesain motif yang diinginkan dengan cara mengikat batu-batuan, kelereng atau koin pada koin dengan karet pengikat sesuai motif yang diinginkan.
Setelah itu dilanjutkan dengan mencelupkan kain dalam cairan pewarna, yaitu cairan yang diperoleh dari proses mendidihkan pewarna, garam dan cuka, selama kurang-lebih 20-30 menit.
Untuk memperoleh kain batik berwarna-warni, dilakukan proses pencelupan pada bagian-bagian yang belum berwarna, dalam cairan berwarna lain.
Proses terakhir adalah pembilasan kain dengan menggunakan air dingin yang bersih dan pelepasan ikatan-ikatan yang ada. Maka, terbentuklah kain batik jumputan yang indah.
Walaupun sederhana, para siswa dapat mengenal lebih dalam seni membatik Diharapkan dengan terjun langsung dalam proses pembuatan batik, dapat menumbuhkan rasa cinta batik pada para siswa MTsN Yogyakarta 1.
Ke depan, para siswa akan dikenalkan kepada beragam motif batik lain dari berbagai daerah di Indonesia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/citizen_2011_20151120_171837.jpg)