Genteng Rumah Warga di Gunungkidul Rusak Akibat Serangan Monyet Ekor Panjang
Tidak hanya merusak lahan pertanian, monyet-monyet itu juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas rumah warga.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Serangan kawanan monyet ekor panjang di Padukuhan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya merusak lahan pertanian, monyet-monyet itu juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas rumah warga.
Suroyo, Ulu-Ulu Kalurahan Purwodadi, mengatakan bahwa serangan monyet semakin intensif sejak musim kemarau, dengan jumlah kawanan yang terus meningkat.
Selain merusak tanaman di lahan pertanian, monyet-monyet ini mulai mendekati permukiman dan merusak rumah warga, bahkan mencopot genteng yang terpasang di atap rumah.
"Serangan monyet ini bukan hanya merusak tanaman di ladang, tapi juga mulai merusak gubuk dan rumah warga. Genteng yang dipasang di atap rumah dicopot hingga merusak struktur bangunannya,” kata Suroyo, Senin (18/8/2025).
Dia menambahkan, kerusakan yang ditimbulkan semakin memburuk karena monyet-monyet tersebut tidak hanya merusak rumah, tetapi juga mengambil makanan milik warga dengan mencuri telur ayam dan buah-buahan yang ada di permukiman.
"Mereka juga masuk ke rumah warga dan mencuri telur ayam. Ini sangat mengganggu, apalagi genteng rumah sudah banyak yang rusak akibat serangan mereka,” ujar dia.
Dia menuturkan upaya warga untuk menghalau serangan monyet sudah dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memasang petasan dan menyediakan ubi kayu sebagai sumber pangan tambahan bagi monyet. Namun, upaya tersebut sejauh ini tidak membuahkan hasil yang maksimal.
"Padahal, setiap hari kami menyiapkan sekitar 85 kilogram singkong untuk makan mereka (monyet), namun serangan tetap terjadi. Monyet-monyet ini terus menyerbu dan merusak segala yang ada, termasuk rumah-rumah warga,” terangnya.
Hal serupa juga diungkapkan Carik Sidoharjo, Tepus, Heru Eko Susilo, keprihatinannya atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan monyet. Genteng rumah yang rusak menambah beban bagi warga, yang kini harus menghadapi ancaman ganda, kerusakan fasilitas rumah dan kerugian di sektor pertanian.
“Kerusakan genteng rumah ini membuat kondisi warga semakin sulit. Serangan monyet ini sudah sangat meresahkan, karena tidak hanya merusak pertanian, tetapi kini juga mengancam struktur rumah warga,” ungkap dia.
Warga kini berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk menemukan solusi yang lebih efektif untuk mengendalikan serangan monyet ekor panjang yang semakin meluas. Mereka meminta adanya upaya yang lebih terkoordinasi antara pemerintah daerah, pihak berwenang, dan masyarakat untuk mengatasi kerusakan yang semakin besar.
"Pemerintah harus segera mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun kerusakan yang ditimbulkan semakin parah,” terang dia.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY Harry Sukmono mengatakan, upaya pengembalian monyet ekor panjang ke habitatnya sudah dilakukan namun memang belum bisa efektif.
"Kami sudah mengandeng Fakultas Kehutanan UGM , untuk melakukan kajian karakteristik monyet ekor panjang.
Namun, memang belum bisa maksimal, karena koloni monyet yang terus bertambah," kata dia.
Dia mengatakan berdasarkan data dan laporan yang masuk ke DLH, monyet ekor panjang berkonflik dengan manusia terjadi hampir di seluruh kapanewon. Terutama, di wilayah Selatan Gunungkidul yang paling banyak ditemukan populasi monyet ekor panjang.
"Kami terus mencoba memetakan karakteristik dari rekomendasi hasil kajian agar dapat melakukan penanganan lebih terukur dan terarah,"pungkasnya.
Dia mengatakan penanganan konflik manusia dan monyet ekor panjang sudah berjalan selama dua tahunan. Selama kurun waktu tersebut, pihaknya pun sudah melakukan berbagai upaya untuk langkah mitigasi, di antaranya memberi makanan secara langsung hingga
menanam tanaman yang bisa menghasilkan sumber makanan bagi monyet, seperti pohon beringin atau aren.
"Kemudian, mengembalikan pelindungnya yang dimaksud pelindung di sini yaitu pepohonan. Serta, memberikan ruang kepada monyet untuk membentuk ekosistem kembali untuk hidup," tuturnya.
Dia mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan mendasari hasil kajian yang dilakukan UGM yang mana serangan monyet ekor panjang terjadi karena ekosistem yang terusik oleh aktivitas masyarakat atau manusia
"Terjadinya konflik monyet ekor panjang dan masyarakat sudah sekitar 10-15 tahunan. Kami akan berupaya untuk menekan serangan monyet terhadap masyarakat. Dan, tentunya
perlu ada kerja sama dan komitmen semua pihak untuk mengatasinya," urainya (ndg)
| Harga Hewan Kurban di Gunungkidul Mulai Bergerak Naik, Pasokan Dipastikan Surplus |
|
|---|
| Lewat Program ‘Pindar Mengajar’, AFPI Gencarkan Literasi Keuangan Digital di Yogyakarta |
|
|---|
| Asmara Terlarang Berbuah Semen: Pasangan Selingkuh 'Cor' Jalan Desa yang Rusak |
|
|---|
| IPK Indonesia DIY Lakukan Pendampingan Psikologis Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta |
|
|---|
| Masifnya Investasi di Selatan Gunungkidul Rusak Karst, Pengusaha Jadikan Denda Sebagai 'Budaya' |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Penampakan-monyet-ekor-panjang-yang-diamankan-warga.jpg)