Mengenal Duck Syndrome, Kondisi Tubuh Baik di Luar tapi Remuk di Dalam

Duck syndrome pertama kali digunakan untuk menggambarkan mahasiswa Stanford University yang tampak tenang

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
Freepik/@drobotdean
Ilustrasi Mahasiswa 

Dalam pandangan Anisa keberadaan media sosial turut memberi andil dan memperkuat tekanan ini.

Dicontohkannya ketika beranda media sosial seseorang dipenuhi dengan pencapaian orang lain seperti kemenangan lomba, pengalaman magang, kelulusan cepat, hingga liburan.

Hal-hal semacam ini, kata dia bisa memicu orang lain muncul perasaan tertinggal.

“Dalam usaha untuk tidak kalah bersinar, mahasiswa sering kali memaksakan diri untuk terlihat produktif. Ini sesuai dengan Impression Management Theory. Seseorang cenderung mengatur dan mengendalikan citra diri agar terlihat kuat dan mampu, meski di balik layar sesungguhnya ia sedang sangat lelah,” ujar Anisa.

Baginya fenomena duck syndrome bisa menjadi sangat berbahaya karena sifatnya yang tak kasat mata.

Sesuatu yang tampak baik-baik saja, namun banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami distress psikologis.

Kalimat-kalimat seperti semua orang juga capek atau kalimat memang harus begini kalau mau sukses, disebutnya menjadi pembenaran untuk terus memaksakan diri.

Padahal kondisi tersebut jika terus dibiarkan akan bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih serius, seperti kecemasan kronis, insomnia, burnout, bahkan depresi.

Konflik perasaan internal dan ekspresi eksternal ini menciptakan disonansi kognitif yang berat.

Lama-kelamaan seseorang bisa merasa asing dengan dirinya sendiri, bingung membedakan antara sibuk dan bahagia. Gejala duck syndrome juga memengaruhi hubungan sosial, dan pada akhirnya mahasiswa mulai menarik diri, merasa tidak cukup baik, dan menghindari interaksi.

“Ada perasaan takut dihakimi atau dianggap gagal, padahal sebetulnya yang dibutuhkan hanya ruang untuk didengar,” jelasnya.

Anisa berpendapat ada baiknya bagi mahasiswa untuk mulai mengenali gejala duck syndrome dan mengambil langkah kecil untuk mengatasinya. Langkah pertama adalah jujur pada diri sendiri, dan mengakui bahwa ia sedang lelah bukan kelemahan.

“Sikap jujur ini merupakan bentuk keberanian. It’s okay to not be okay. Kita tidak harus selalu produktif atau terlihat bahagia. Menerima semua, dan mengizinkan diri merasa sedih adalah bagian dari pemulihan,” tuturnya.

Yang tak kalah penting juga, kata Anisa yaitu soal mengelola ekspektasi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan.

Mahasiswa perlu menyadari bahwa tidak semua standar harus diikuti, dan tidak semua peran harus diambil. Menolak suatu tanggung jawab demi menjaga kesehatan mental adalah hal yang sah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved