Paceklik Ikan dan Cuaca Ekstrem, Ratusan Nelayan di Bantul Urungkan Niat Melaut

Warsiman, berujar, tiupan angin kencang menyebabkan adanya gelombang pasang pada pagi hari

TRIBUNJOGJA.COM / Neti Istimewa Rukmana
TAK MELAUT - Foto dok ilustrasi. Sejumlah perahu nelayan sedang parkir di pinggir-pinggir Pantai Depok, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Selasa (10/6/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan nelayan di Pantai Selatan (Pansela) Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, gagal melaut dikarenakan ancaman tiupan angin kencang sekaligus musim timuran, selama dua hari terakhir.

Salah satu nelayan di Pantai Depok, Kabupaten Bantul, Warsiman, berujar, tiupan angin kencang menyebabkan adanya gelombang pasang pada pagi hari. Lalu, musim timuran yang berlangsung membuat paceklik ikan.

"Saat ini, tangkapan ikan sangat sulit. Bisa dibilang paceklik ikan lah. Kalau misalnya mau berburu benur, juga harga jual enggak cocok, karena harganya baru jatuh," katanya, Rabu (20/7/2025).

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa ada kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Di mana, beberapa hari terakhir ini, saat pagi hari turun hujan. Menurutnya, seluruh kondisi itu tidak sembanding dengan risiko yang dihadapi oleh nelayan jika memilih untuk nekat melaut.

Warsiman mengatakan bahwa tidak hanya dia saja yang tidak melaut, tetapi ratusan nelayan lain juga memilih tidak melaut. Bahkan, saat ini ada ratusan kapal nelayan yang hanya diparkir di pantai.

"Mereka yang enggak bisa melaut, jadi alih profesi, jadi kerja serabutan demi penuhi kebutuhan. Bahkan, ada yang sampai pulang kampung sementara waktu sampai kondisi cuaca laut membaik," urai dia.

Ia turut menyampaikan bahwa sebagian besar nelayan Pantai Depok berasal dari luar kota yakni Kebumen dan Cilacap. Tak heran, jika banyak yang memilih pulang kampung sementara.

Terpisah, Sekretaris SAR Satlinmas Wilayah IV Kabupaten Bantul, Nugroho, berujar, beberapa waktu terakhir juga kerap ditemukan kondisi gelombang pasang. Ia pun tak menampik bahwa cuaca di laut tidak bersahabat.

"Tiupan angin itu juga kencang. Jadi nelayan sulit untuk beraktivitas di tengah laut baik menabur atau menarik jaring," bebernya.

Di samping itu, gelombang di tengah laut saat ini juga pecah akibat terjangan angin kencang. Pecahan gelombang disebut-sebut bisa memenuhi kapal dan menyebabkan kapal karam.

"Jadi, ya memang saat ini cukup berbahaya kalau nelayan mau melaut," ucap Nugroho.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa tiga bulan mulai Juni sampai Agustus 2025 merupakan musim paceklik ikan bersamaan dengan datangnya musim timuran yang ditandai dengan angin kencang dan gelombang pasang.

"Artinya, selain nelayan, kami juga mengimbau kepada wisatwan untuk tetap berhati-hati saat bermain air di pantai. Kami imbau agar wisatawan tidak berenang atau bermain air di laut. Selain itu ubur-ubur beracun juga masih sering muncul di pantai," tutupnya.(nei)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved