Cerita Dirga, dari Lapangan Tenis ke Ruang Kuliah Psikologi UGM
Remaja asal Purwokerto ini menunjukkan bahwa kombinasi dedikasi dan semangat belajar dapat membuka pintu menuju kampus terbaik.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tak ada yang menyangka, ketekunan Dirgantara Fath Sulthan Alif (19) dalam tenis lapangan sejak usia sembilan tahun akan mengantarkannya meraih prestasi nasional dan lolos ke Prodi Psikologi Universitas Gadjah Mada melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) olahraga.
Perjalanan Dirga, begitu ia biasa disapa, merupakan gambaran nyata bahwa mimpi besar bisa diraih siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
Remaja asal Purwokerto ini menunjukkan bahwa kombinasi dedikasi dan semangat belajar dapat membuka pintu menuju kampus terbaik.
“Saya mulai serius menekuni tenis sejak kelas 3 SD. Saat itu saya sadar, ini bukan sekadar hobi, tapi potensi,” ujar Dirga.
Sejak kelas 5 SD, ia rutin mengikuti kejuaraan tingkat provinsi. Seiring waktu, prestasinya semakin bersinar: Juara 3 Nasional Amman Mineral Junior Tennis Championship 2019, Juara 2 POPDA Jateng 2023, Juara 1 POPDA Jateng 2024, dan Juara 2 Nasional Irawati Moerid Tennis Championship 2025. Setiap pertandingan menjadi ruang tumbuh mental dan keterampilan.
Meski sibuk berlatih, pendidikan tetap prioritas. Dirga terbiasa mencuri waktu di sela latihan untuk belajar, mengikuti organisasi, bahkan menjadi relawan.
Ia aktif di OSIS, Paskibra, tim basket, hingga dipercaya menjadi brand ambassador pelajar. Di luar sekolah, ia terlibat dalam Forum Anak Banyumas dan menjadi sekretaris dalam program Banyumas Kids Takeover.
“Interaksi dengan teman-teman dari SLB menjadi pengalaman yang membuka mata saya akan pentingnya empati,” kenangnya.
Minat terhadap psikologi tumbuh dari pengalamannya sebagai atlet. Ia menyadari betapa pentingnya kekuatan mental dalam menentukan performa.
“Saya ingin belajar lebih dalam tentang manusia, agar bisa memahami dan membantu orang lain,” katanya.
Dirga adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh jasa dan penjual bubur ayam, ibunya seorang ibu rumah tangga. Kendati kondisi ekonomi terbatas, cinta dan dukungan keluarga menjadi fondasi kuat bagi perjuangan Dirga.
“Saya tahu banyak hal yang dikorbankan. Papa bahkan pernah menjual Vespa kesayangannya demi pendidikan kami,” tuturnya haru.
Momen paling membekas terjadi saat seleksi UGM. Orang tuanya datang diam-diam ke pinggir lapangan, memberikan dukungan tanpa kata.
“Saya lihat Mama sudah berdiri di pinggir lapangan, itu bentuk cinta yang diam tapi dalam,” katanya.
Tangis haru pecah saat pengumuman kelulusan diterima. “Semua perjuangan terbayar lunas,” ungkap sang ayah, Epi Yandri.
Kini, Dirga menatap masa depan dengan semangat. Ia ingin lulus tepat waktu, melanjutkan studi, dan memberi kontribusi bagi masyarakat.
“Saya ingin membuktikan, anak dari keluarga sederhana juga bisa punya mimpi besar dan mewujudkannya,” pungkasnya. (Ard)
| Tak Perlu Lucuti Celana Kiai Ashari |
|
|---|
| Lewat Program ‘Pindar Mengajar’, AFPI Gencarkan Literasi Keuangan Digital di Yogyakarta |
|
|---|
| IPK Indonesia DIY Lakukan Pendampingan Psikologis Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta |
|
|---|
| Mimpi yang Terwujud dari Ketekunan Menabung Bertemu dengan Subsidi Dana Manfaat |
|
|---|
| Di Balik Inovasi Embarkasi Hotel Pertama dan Satu-satunya, Ada Dana Manfaat Bekerja Tanpa Terlihat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cerita-masuk-psikologi-ugm.jpg)