Kamboja-Thailand Silih Serang, Apa Masalah yang Memicunya?
Thailand dan Kamboja bertukar serangan di perbatasan kedua negara, tepatnya di Distrik Kabcheing Provinsi Surin Thailand.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Pada 1 Januari 1979, Vietnam menginvasi Kampuchea dan menggulingkan Khmer Merah dari kekuasaan, menggantikannya dengan Republik Rakyat Kampuchea yang didukung Soviet, yang meningkat menjadi perang sebelas tahun.
Thailand menolak mengakui Republik Rakyat Kamboja (RRK) dan terus mendukung Kampuchea Demokratik yang digulingkan.
Khmer Merah dan dua faksi non-komunis membentuk pemerintahan di pengasingan Kamboja yang didukung Republik Rakyat Tiongkok, Korea Utara, ASEAN, dan kekuatan Barat lainnya.
Pada tahun 1993, monarki dipulihkan dengan Norodom Sihanouk diangkat kembali sebagai Raja, dan pemilihan umum pascaperang pertama dikoordinasikan oleh UNTAC.
Pemilihan umum tersebut dimenangkan FUNCINPEC yang dipimpin oleh putra Sihanouk, Norodom Ranariddh.
Perjanjian pembagian kekuasaan disepakati Ranariddh dan Hun Sen dari Partai Rakyat Kamboja, keduanya secara bersamaan menjadi Perdana Menteri Bersama.
Stabilitas terguncang pada tahun 1997 oleh kudeta yang dipimpin Hun Sen, yang menggulingkan Ranariddh sebagai pemimpin pemerintahan.
Norodom Sihamoni dinobatkan sebagai raja Kamboja pada tahun 2004 setelah ayahnya, Norodom Sihanouk, turun takhta.
Setelah Hun Sen lengser, kepemimpinan Kamboja dilanjutkan putranya, Hun Manet. Dia seorang jenderal lulusan West Point Amerika.
Di bawah kepemimpinan Hun Manet, kembali Kamboja diuji lagi menyusul konflik perbatasan yang tak kunjung berakhir dengan Thailand.
Sebagai sesama anggota ASEAN, konflik perbatasan kedua negara ini akan signifikan dampaknya bagi kawasan.
ASEAN sudah pernah menawarkan diri untuk menengahi masalah tersebut. Namun, Thailand bersikeras diskusi bilateral dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan lebih baik.
Konflik Kamboja-Thailand juga sudah pernah sampai di Mahkamah Internasional, dan muncul perintah kedua pihak agar menarik pasukan dari area kuil yang disengketakan.
Kini Kamboja secara resi telah menyurati Pakistan sebagai Ketua Dewan Keamanan PBB, untuk menggelar sidang darurat guna menengahi konflik ini.
Asia Tenggara yang dikenal relatif stabil, ternyata menyimpan bara konflik antarnegara yang bisa mengubah situasi regional.
Selain konflik Myanmar yang tak kunjung usai, Kamboja-Thailand memiliki akar konflik yang bisa membakar kedua negara jika tidak ditangani secara bijak.
Sementara Vietnam dan Filipina juga memiliki bibit konflik perbatasan, bahkan lebih signifikan karena menyangkut sengketa dengan Tiongkok di Laut China Selatan.
Baku tembak skala berat antara pasukan Thailand dan Kamboja mengingatkan kita semua, situasi dunia ternyata begitu rapuh.
Tidak hanya di Timur Tengah, Eropa Timur, Afrika, tetapi ada di depan mat akita, di kawasan Asia Tenggara.
(Tribunjogja.com/Setya Krisna Sumarga)
| Moralitas dan Keadilan dalam Perang |
|
|---|
| Negosiasi AS-Iran Gagal, Tema Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Persoalan Utama |
|
|---|
| Peringati Harlah ke-80 di Jogja, Muslimat NU Surati PBB Desak Penghentian Perang Global |
|
|---|
| Kevin Furqoni, Bocah Asal Sleman Taklukkan Thailand di Ajang Internasional |
|
|---|
| Geopolitik Global Masih Labil, Pakar UMY Dorong Diversifikasi Ekspor dan Transformasi Industri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Perang-Thailand-vs-Kamboja.jpg)