Kamboja-Thailand Silih Serang, Apa Masalah yang Memicunya? 

Thailand dan Kamboja bertukar serangan di perbatasan kedua negara, tepatnya di Distrik Kabcheing Provinsi Surin Thailand. 

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Dok.Istimewa/ via Tribunnews
Konflik Thailand vs Kamboja 

Tapi hubungan kedua negara masih rumit. Penetapan batas wilayah yang belum tuntas telah menyebabkan konflik perbatasan yang berkepanjangan.

Kuil Preah Vihear menjadi episentrum konflik, yang dibawa ke Mahkamah Internasional pada tahun 1962, tetapi masih diwarnai bentrokan militer pada tahun 2008 dan 2011. 

Konflik internal Kamboja sepanjang tahun 1970-an hingga 1980-an seringkali merembet ke Thailand, yang menerima pengungsi tetapi juga memberikan dukungan tidak langsung kepada Khmer Merah yang dipimpin oleh diktator Maois Pol Pot (Saloth Sâr). 

Thailand kini mendominasi negara tetangganya yang lebih miskin secara ekonomi, dan merupakan investor terbesar keenam di Kamboja.

Meskipun hubungan keduanya sebagian besar damai, masyarakat kedua negara masih menyimpan permusuhan.

Warisan budaya bersama kedua negara telah memicu persaingan nasionalis yang sengit, yang sering kali diekspresikan melalui perang kata-kata daring atas klaim kepemilikan dan asal-usul warisan tersebut. 

Ketegangan ini juga pernah meletus menjadi kekerasan ketika dipicu oleh sentimen nasionalis. 

Beberapa episode tersebut termasuk serangan massa terhadap Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh pada tahun 2003, yang mendorong penurunan hubungan oleh Thailand.

Thailand juga menurunkan hubungan pada tahun 2009 sebagai tanggapan atas dukungan pemerintah Kamboja terhadap mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.

Kamboja memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Thailand dua kali pada tahun 1958 dan 1961, selama konflik Preah Vihear.

Setelah Kamboja menjadi pusat perebutan kekuasaan antara Thailand dan Vietnam, Thailand merebut seluruh kekuasaan dari Kamboja

Kamboja menjadi negara bawahan Siam, tetapi untuk mencegah kedua tetangganya, Siam dan Vietnam, mencaplok Kamboja, Raja Norodom mengundang Prancis untuk menjadikan Kamboja sebagai protektoratnya pada 11 Agustus 1863. 

Kamboja tetap berada di bawah kekuasaan Prancis hingga 9 November 1953.

Selama tahun 1970-an, Khmer Merah memerintah Kamboja sebagai Republik Demokratik Kampuchea lewat genosida Kamboja

Hal ini menyebabkan banyak pengungsi Kamboja melarikan diri ke perbatasan Thailand untuk menghindari rezim Pol Pot.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved