Kamboja-Thailand Silih Serang, Apa Masalah yang Memicunya? 

Thailand dan Kamboja bertukar serangan di perbatasan kedua negara, tepatnya di Distrik Kabcheing Provinsi Surin Thailand. 

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Dok.Istimewa/ via Tribunnews
Konflik Thailand vs Kamboja 

Kementerian Luar Negeri Kamboja mengatakan serangan udara Thailand tidak beralasan dan meminta negara tetangganya menarik pasukannya.

Penduduk Thailand termasuk anak-anak dan lansia berlarian ke tempat penampungan yang dibangun dari beton dan diperkuat karung pasir dan ban mobil di perbatasan Surin. 

Selama lebih dari satu abad, Thailand dan Kamboja berebut wilayah yang tidak bertanda di sepanjang perbatasan darat mereka yang panjangnya 817 kilometer.

Sejumlah pertempuran kecil terjadi selama beberapa tahun dan setidaknya belasan kematian, termasuk selama baku tembak artileri selama seminggu pada tahun 2011.

Ketegangan kembali memanas pada bulan Mei 2025 setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat.

Insiden ini meningkat menjadi krisis diplomatik besar-besaran dan telah memicu bentrokan bersenjata seperti berlangsung 24 Juli 2025

Pejabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan insiden terbaru di perbatasan ini menunjukkan situasinya genting.

"Kita harus berhati-hati," katanya kepada para wartawan.

"Kita akan mematuhi hukum internasional," lanjutnya. 

Upaya Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra untuk menyelesaikan ketegangan lewat mantan Perdana Menteri Kamboja yang berpengaruh, Hun Sen, berakhir buruk.

Percakapan itu bocor, memicu badai politik di Thailand, yang menyebabkan penangguhan jabatan Paetongtarn oleh pengadilan.

Hubungan bilateral antara Kamboja dan Thailand dimulai sejak abad ke-13, tepatnya pada era Angkor. 

Kerajaan Ayutthaya di Thailand secara bertahap menggantikan Kekaisaran Khmer yang sedang merosot sejak abad ke-14.

Protektorat Prancis memisahkan Kamboja dari Thailand modern pada pergantian abad ke-19 dan ke-20.

Hubungan diplomatik antara kedua negara modern tersebut terjalin pada 19 Desember 1950.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved