BPS Ingatkan Dampak Perang Global Bisa Perparah Tren Inflasi di Kota Yogyakarta

BPS Kota Yogyakarta mencatat adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan pada periode Maret 2026.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
AWAS INFLASI - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta, Joko Prayitno. BPS mencatat adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan pada periode Maret 2026. 
Ringkasan Berita:
  • BPS Kota Yogyakarta mencatat adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan pada periode Maret 2026.
  • Dari data, kenaikan harga sejumlah komoditas BBM nonsubsidi disinyalir menjadi motor utama penarik angka inflasi mencapai 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 
  • ​Menurut Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, kenaikan harga komoditas seperti Pertamax, Pertamax Turbo, hingga Solar pada awal Maret lalu memberi andil besar terhadap pergerakan indeks harga konsumen.

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan pada periode Maret 2026.

Kenaikan harga sejumlah komoditas bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi disinyalir menjadi motor utama penarik angka inflasi mencapai 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

​Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menuturkan kenaikan harga komoditas seperti Pertamax, Pertamax Turbo, hingga Solar pada awal Maret lalu memberi andil besar terhadap pergerakan indeks harga konsumen.

Gejolak global pun disebut menjadi biang keladi terhambatnya suplai bahan bakar dunia yang berujung pada melambungnya harga di tingkat domestik.

​"Awal Maret itu kan ada kenaikan harga Pertamax, Pertamax Turbo, juga Solar. Itu saja sudah menjadi peringatan awal," ujarnya, Kamis (2/4/26). 

"Saya sudah sampaikan saat high level meeting bersama Pak Wali Kota, bahwa kenaikan bensin ini pasti memicu inflasi jika komoditas lainnya tetap, apalagi kalau ikut naik.

​Joko mengungkapkan, tren inflasi di Kota Yogyakarta secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor eksternal dan internal. 

Sayangnya, untuk komoditas energi seperti BBM dan emas, pemerintah daerah tidak memiliki kendali penuh karena harga ditentukan oleh mekanisme pasar global dan kebijakan pusat melalui Pertamina.

​"Kalau volatile food seperti bahan pangan sehari-hari, itu masih bisa disiasati dengan kebijakan lokal, misalnya melalui operasi pasar oleh Pemerintah Kota. Tapi, tidak mungkin kan kita melakukan operasi pasar untuk bensin," tandasnya.

​Ia menjelaskan, jika konflik global terus berlanjut dan mengganggu jalur distribusi energi, maka dampaknya akan langsung terasa pada kenaikan harga bahan bakar yang secara otomatis menyeret angka inflasi ke level yang lebih tinggi.

​Disinggung mengenai proyeksi inflasi pada bulan April, Joko menyebut kondisinya masih sangat dinamis dan bergantung pada stabilitas harga energi nasional ke depan.

​"Tergantung apakah hari ini atau ke depan ada kenaikan harga bensin lagi atau tidak. Jika harga bensin stabil, tekanan mungkin bisa berkurang, tapi kalau naik lagi, ya tentu inflasi akan berlanjut," pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved