Fakta Yogyakarta

Jogja Dihantui Perceraian Akibat Judi, Angkanya Naik Dua Kali Lipat di Tahun 2024

Angka perceraian di DIY terus bertambah dengan penyebab-penyebab yang kian kompleks dan memprihatinkan, salah satunya karena judi.

Grafis Tribunjogja.com/Fauzirahman
Ilustrasi perceraian 

TRIBUNJOGJA.COM - Yogyakarta dikenal luas sebagai kota budaya, kota pelajar, sekaligus simbol romantisme hidup yang tenang dan bersahaja. 

Namun, di balik citra manis itu, ada realitas pahit yang perlahan mengikis pondasi kehidupan keluarga: angka perceraian yang terus bertambah, dengan penyebab-penyebab yang kian kompleks dan memprihatinkan.

Salah satu penyebab yang kini mencuat dan menimbulkan keprihatinan mendalam adalah judi.

Lonjakan Perceraian Karena Judi

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY yang dirilis pada 14 Februari 2025 menunjukkan bahwa kasus perceraian karena judi mengalami lonjakan tajam, dari hanya tujuh kasus pada tahun 2023 menjadi 17 kasus pada 2024, naik lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu satu tahun.

Kenaikan ini menjadi sinyal alarm bahwa praktik perjudian bukan hanya ancaman bagi ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi bom waktu yang merusak ikatan emosional dan kepercayaan dalam pernikahan.

Bukan sekadar angka, kasus-kasus ini mencerminkan tragedi sosial yang kerap tersembunyi di balik tembok rumah tangga: pasangan yang kehilangan penghasilan, terlilit utang, hingga kekerasan akibat tekanan mental dari kecanduan berjudi.

Fenomena ini mencuat seiring maraknya akses terhadap judi daring (online), yang semakin sulit dikendalikan. Dalam banyak kasus, korban baru menyadari kerusakan yang ditimbulkan setelah kondisi rumah tangga sudah terlalu hancur untuk diselamatkan.

Jogja Tak Lagi Seromantis Labelnya?

Secara keseluruhan, angka perceraian di DIY memang menunjukkan tren penurunan. Pada 2024 tercatat 4.719 kasus, turun dari 5.187 kasus pada 2023.

Penurunan terjadi merata di semua kabupaten/kota, termasuk Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta.

Namun, bila ditelaah lebih dalam, penurunan ini bukan berarti perbaikan menyeluruh. Justru, beberapa penyebab perceraian yang lebih berat dan kompleks mengalami kenaikan signifikan.

Baca juga: Katanya Jogja Romantis, tapi Lebih dari 5.000 Orang Cerai Tiap Tahun, Sleman Penyumbang Terbanyak

Selain judi, perceraian akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) meningkat dari 58 menjadi 93 kasus, dan perceraian karena faktor ekonomi naik dari 583 menjadi 637 kasus.

Artinya, meski konflik kecil menurun, perceraian karena masalah serius meningkat.

Sleman Masih Tertinggi, Realita Sosial Sedang Bergeser

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved