UAJY dan KAFEGAMA UGM Adakan Seminar Nasional Bahas Masa Depan PTS

Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring bagi para tamu undangan dan daring bagi peserta umum.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Dok.Istimewa
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berkolaborasi dengan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis (KAFEGAMA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Menyelamatkan Nasib Perguruan Tinggi Swasta pada Rabu (27/08/2025) di Auditorium Kampus III Gedung St. Bonaventura. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berkolaborasi dengan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis (KAFEGAMA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Menyelamatkan Nasib Perguruan Tinggi Swasta” pada Rabu (27/08/2025) di Auditorium Kampus III Gedung St. Bonaventura.

Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, yakni luring bagi para tamu undangan dan daring bagi peserta umum.

Seminar ini menghadirkan lima narasumber, yakni Prof. Dr. Muhammad Najib (Direktur Kelembagaan, Ditjen Dikti, Kemendikti Saintek RI), Prof. Fathul Wahid, Ph.D (Ketua APTISI Wilayah V DIY dan Rektor UII), Sri Darmadi Sudibyo (Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY), Prof. Ainun Naim, Ph.D (Guru Besar FEB UGM), dan Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., C.A. (Dekan FEB UGM). Acara ini dimoderatori oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. (Rektor Universitas Widya Mataram/Guru Besar FBE UII).

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Dr. Bogat Agus Riyono (Ketua KAFEGAMA DIY), Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M. (Rektor UAJY), serta Prof. Setyabudi Indartano, Ph.D. (Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY).

Dalam sambutannya, Prof. Setyabudi mengungkapkan bahwa kualitas masih menjadi persoalan utama bagi perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta. Inilah yang menjadi alasan di balik terciptanya seminar nasional ini.

“Ada hal yang perlu kita coba fokuskan, yakni kualitas perguruan tinggi kita. Dari 100 PTS kita di Jogja ini, baru ada sembilan PTS yang terakreditasi unggul. Jadi, ada 91 yang belum terakreditasi unggul,” ungkapnya.

Prof. Muhammad Najib membuka paparan dengan menjelaskan persaingan antar perguruan tinggi.

Ia menekankan perlunya peningkatan kualitas SDM, penguatan inovasi, efisiensi, serta kolaborasi dengan industri agar PTS mampu bertahan dan berkembang.

Selanjutnya, Prof. Fathul Wahid menambahkan bahwa persoalan PTS tidak hanya terkait persaingan, tetapi juga permasalahan lainnya yang lebih banyak muncul di kota-kota besar. 

“Pemerintah dan masyarakat juga harus bijak dalam menyikapi keberadaan PTS. PTS harus diakui sebagai mitra setara, bukan hanya alternatif,” jelasnya.

Dari perspektif ekonomi, Sri Darmadi Sudibyo menekankan keterkaitan antara keberlangsungan PTS dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurutnya, kota seperti Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar sangat bergantung pada dinamika kegiatan mahasiswa, baik dari PTN maupun PTS.

Materi senada juga disampaikan oleh Prof. Ainun Naim dan Prof. Didi Achjari yang menyoroti kontribusi PTS dalam mendukung pembangunan bangsa melalui pendidikan tinggi.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber.

Seminar kemudian ditutup dengan ramah tamah serta kunjungan para tamu ke berbagai booth yang tersedia. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved