Warga Temon Kulon Progo Ini Merasa Kena Prank Beras Premium, Waswas Isinya Oplosan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, 26 dari 212 merek beras mengakui telah mengoplos beras yang beredar di masyarakat. 

Penulis: Tribun Jogja | Editor: ribut raharjo
KOMPAS.com/Suparjo Ramalan
BERAS OPLOSAN : Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai raker dengan Komisi IV DPR RI. Amran menyebut produsen 26 merek beras akui melakukan pelanggaran 

“Beli beras mahal kan tujuannya biar gizi untuk anak dan keluarga tercukupi juga, kalau dioplos pasti kualitas tadi menurun juga," ungkap Sutinah.

Rahmasari (35), warga Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul, mengaku kerap membeli produk beras merek Sovia dikarenakan teksturnya yang pulen. 

"Kalau beras merek Sovia itu cocok di lidah anak-anak sama suami saya. Jadi, saya sering beli itu," jelasnya.

Ia pun mengaku kaget dengan adanya isu sejumlah beras bermerek termasuk Sovia yang dioplos. 

“Kalau benar-benar itu beras oplosan, ya jangan diedarkan ke pasaran. Kan kita sebagai konsumen jadi rugi kalau yang diedarkan itu tidak sesuai ketentuan," tutup dia.

Operasi pasar

Sementara itu, sejumlah pedagang beras di Kabupaten Gunungkidul meminta pemerintah daerah agar segera menyelenggarakan operasi pasar guna menenangkan pelanggan dan memastikan distribusi beras berkualitas.

"Sejauh ini belum ditemukan beras oplosan di sini. Namun, saya nonton berita sudah ditemukan beras oplosan premium di beberapa daerah lain. Pastinya, konsumen ada kekhawatiran juga," ucap Tuti (47) pedagang besar di Pasar Tradisional Argosari, Wonosari.

Dia mengatakan, jika tidak segera dilakukan operasi pasar dikhawatirkan  masyarakat mulai ragu untuk membeli beras premium yang harganya lebih tinggi. Jika ini berlanjut tentu akan mempengaruhi penjualan para pedagang.

"Ya kami harapkan ada pengawasan ketat lewat operasi pasar. Karena, ini kan merugikan pedagang dan konsumen juga. Apalagi, saya tonton berita, beberapa merek beras bahkan yang diklaim premium ternyata dicampur atau dikemas ulang secara curang," 
terang dia.

Tarik produk

Kepala Bidang Usaha Dinas Perdagangan (Disdag) Kulon Progo, Endang Zulywanti mengatakan bahwa pihaknya melakukan pemantauan terhadap distribusi beras premium bermerek di toko-toko modern, termasuk di Tomira (Toko Milik Rakyat). 

Hasilnya, banyak toko yang memilih menarik produk beras premium bermerek dari penjualan. 

Menurut Endang, setidaknya ada sekitar 15 toko modern yang dipantau, dan beberapa menarik persediaan beras premium bermerek, termasuk Tomira. 

Penarikan dilakukan usai adanya kasus beras premium oplosan yang melibatkan sejumlah merek.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved