Warga Temon Kulon Progo Ini Merasa Kena Prank Beras Premium, Waswas Isinya Oplosan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, 26 dari 212 merek beras mengakui telah mengoplos beras yang beredar di masyarakat. 

Penulis: Tribun Jogja | Editor: ribut raharjo
KOMPAS.com/Suparjo Ramalan
BERAS OPLOSAN : Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai raker dengan Komisi IV DPR RI. Amran menyebut produsen 26 merek beras akui melakukan pelanggaran 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kementerian Pertanian mencatat  212 merek beras premium diduga berisi oplosan.

Dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, 26 dari 212 merek beras mengakui telah mengoplos beras yang beredar di masyarakat. 

Temuan Kementan itu pun membuat heboh warga yang selama ini merasa mengonsumsi beras premium. 

Namun dengan beredarnya beras oplosan ini, masyarakat pun merasa khawatir. 

Tak sedikit warga yang kemudian merasa waswas bahwa selama ini ternyata mengonsumsi beras oplosan.

Salah seorang warga bernama Tinuk, merasa kena "prank" oleh produsen beras premium. 

"Ya jelas kecewa, karena sudah beli dengan harga mahal namun kualitasnya tidak sesuai," kata ibu rumah tangga asal Kapanewon Temon, Kulon Progo.

Tinuk terkadang membeli beras premium. Adanya dugaan beras premium oplosan membuat ia ikut mempertanyakan kandungan gizi di dalamnya. 

Sebab bisa saja modus yang dilakukan membuat kualitas beras menjadi kurang bagus.

"Sebab terkadang beli beras premium dengan alasan lebih bergizi dan lebih sehat, tapi kalau begini ya jadinya zonk," ujar Tinuk.

Sutinah (52), warga Kapanewon Wonosari, Gunungkidul mengaku khawatir dengan adanya dugaan beras premium yang dioplos oleh produsen. 

Padahal selama ini, dirinya selalu mengonsumsi beras premium, karena lebih enak, harum, putih, dan pulen.

"Pastinya resah dan kaget juga, kemarin tonton berita itu ada merek-merek beras oplosan. Jadi bertanya-tanya juga apa ini beras yang saya makan selama ini atau tidak," ucapnya saat ditemui di rumahnya.

Ia mengaku belum merasakan perubahan dari beras premium yang dia konsumsi. Akan tetapi, dirinya mengaku khawatir dengan kualitas beras yang didapatkannya. 

"Memang belum merasa ada yang berubah, tapi kan namanya sesuatu yang dioplos merugikan konsumen,” katanya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved