Human Interest Story
KISAH Mbah Sutarji, Pejuang Penambal Jalan Berlubang yang Ikhlas Tanpa Minta Imbalan
Di tengah lalu lintas yang berdebu dan jalan rusak yang menganga, tampak sosok pria tua dengan tubuh basah oleh keringat.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Matahari baru menampakkan diri di ufuk timur, namun panasnya telah menyengat kulit.
Debu mengambang di udara, setiap kali sepeda motor atau truk melintas di ruas jalan antara Desa Sarimulyo dan Wantilgung, Kecamatan Ngawen, Blora, Jawa Tengah.
Di tengah lalu lintas yang berdebu dan jalan rusak yang menganga, tampak sosok pria tua dengan tubuh basah oleh keringat.
Ia bukan petugas Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Ia juga bukan relawan yang dikirim lembaga.
Ia adalah Sutarji (70), warga asli Desa Wantilgung.
Sejak sebelas hari lalu, Sutarji menghabiskan pagi-paginya bukan untuk beristirahat atau menikmati masa pensiun, melainkan menambal lubang-lubang jalan seorang diri.
Baca juga: Bagaimana Potensi RI Bisa Bebas Penyakit Mulut dan Kuku? Perlu Penguatan Vaksinasi dan Menyeluruh
Telanjang dada, mengenakan topi lusuh dan celana panjang kumal, tangan tuanya mendorong gerobak kecil yang penuh muatan material, batu kapur, pasir, dan semen.
Semuanya ia beli sendiri. Kadang juga berasal dari pemberian para sopir yang lewat dan terharu melihat aksinya.
“Pakai dana pribadi, tapi kadang ada sopir-sopir truk yang lewat, ngasih uang. Saya belikan semen buat nambal lagi,” ujar Sutarji, saat ditemui, Selasa (1/7/2025).
Material utama yang ia gunakan bukanlah aspal, melainkan batu gamping hasil dagangannya sendiri.
Ya, Sutarji adalah penjual batu gamping di Pasar Ngawen. Namun, bukan laba yang ia kejar.
“Gampingnya kalau besar-besar, daripada dijual ke tukang material, saya pakai buat nambal jalan ini,” katanya sambil menyeka peluh.
Demi Jalan yang Aman untuk Semua
Bukan tanpa alasan Sutarji rela bersusah payah menambal jalan rusak.
Beberapa kali ia menyaksikan pengendara, terutama ibu-ibu, terjatuh karena terperosok lubang di jalan itu. Hatinya tergerak.
Bagi Sutarji, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat sesama manusia celaka karena kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah.
“Banyak mas yang jatuh gara-gara lubang ini. Biasanya itu ibu-ibu. Saya nggak tega,” ujarnya pelan.
Ia menyadari bahwa menunggu pemerintah memperbaiki jalan bisa memakan waktu yang lama. Maka, daripada menunggu sesuatu yang belum pasti, ia memilih bertindak.
“Kalau nunggu pemerintah, antreannya banyak. Saya nggak sabar. Jadi ya saya tambal sesuai kemampuan.”
Ritual Pagi yang Penuh Arti
Rutinitas Sutarji dimulai setelah salat Subuh.
Ia sarapan, lalu mulai mendorong gerobaknya menuju titik-titik lubang yang sudah ia tandai sebelumnya.
Biasanya ia pulang sebelum tengah hari, saat panas sudah terlalu menyengat bagi tubuh tuanya.
“Biasanya jam sebelasan sudah pulang. Sesuai kemampuan. Yang penting sehat, itu modal utamanya,” katanya sambil tersenyum.
Ia mengakui bahwa aktivitas ini melelahkan, tapi ia tidak ingin mengeluh. Baginya, niat yang kuat dan hati yang ringan adalah sumber kekuatan sejatinya.
“Capek ya capek, Mas. Tapi kalau diniati, jadi ringan.”
Pahlawan Jalanan yang Tak Minta Balasan
Di era saat banyak orang menuntut perubahan dari luar, Sutarji menunjukkan bahwa perubahan bisa datang dari hati yang tulus dan dua tangan yang bersedia bekerja.
Tanpa viral di media sosial, tanpa tepuk tangan atau panggung penghargaan, Sutarji menjadi pahlawan bagi pengendara yang setiap hari melintasi jalan Sarimulyo–Wantilgung dengan lebih aman.
Ia bukan pejabat, bukan tokoh masyarakat, bukan aktivis.
Tapi kisahnya adalah pengingat bahwa keberanian untuk peduli adalah bentuk kepemimpinan paling sederhana dan paling langka. (*)
Kisah Zaira Bertels, Bangun Usaha Pemanfaatan Limbah di Sleman Jadi Produk Interior Berskala Ekspor |
![]() |
---|
Cerita Siswi Sekolah Rakyat di Bantul, Sempat Susah Tidur dan Kangen Rumah |
![]() |
---|
Cerita Faishal Ahmad Kurniawan, Putra Bantul yang Lolos Jadi Anggota Paskibraka Nasional 2025 |
![]() |
---|
Kisah Putri Khasanah, Anak Pedagang Asongan di Bantul yang Bisa Kuliah Gratis di UGM |
![]() |
---|
Cerita Elsa Yuliana Anak Marbot Masjid dari Kulon Progo Masuk UGM Tanpa Tes |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.