Human Interest Story

KISAH Anak Penjaga Warung Kelontong Asal Godean Lolos Seleksi dan Bisa Kuliah Gratis di UGM

Selain lolos tanpa tes, Febi juga menerima beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari UGM

|
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
dok.UGM
LOLOS SELEKSI - Febiyanti Nur Mahmudah (18) bersama ibunya, Siti Sofariyatun (61), menangis haru ketika dinyatakan lolos seleksi masuk UGM, Kamis (12/6/2025) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjadi anak dari seorang penjaga sembako bukanlah kendala bagi Febiyanti Nur Mahmudah (18) untuk mengejar mimpinya meraih masa depan dengan menempuh studi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Di rumah sederhana dengan cat dinding berwarna putih yang telah lusuh, menjadi saksi bagaimana sang ibu menjadi orangtua tunggal menghidupi keempat anaknya dengan bekerja sebagai penjaga warung kelontong. 

Rumah yang berada di daerah Sidoagung, Godean, Sleman ini menjadi tempat kediaman Febiyanti Nur Mahmudah (18) bersama ibunya, Siti Sofariyatun (61).
 
Febi, demikian ia akrab disapa, merupakan calon mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada tahun 2025 yang berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). 

Selain lolos tanpa tes, Febi juga menerima beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen dari UGM sehingga meringankan biaya kuliahnya.

Febi merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, lahir dari keluarga sederhana.

Sang Ibu, Siti Sofariyatun bekerja sebagai penjaga warung sembako yang berada puluhan kilometer dari rumahnya. 

Dari pekerjaannya itu, sang ibu memperoleh penghasilan sekitar Rp50.000 per hari, atau sekitar Rp1.200.000 per bulan, penghasilan yang harus cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Baca juga: Cerita Anak Penjual Jerami dari Wonosari Bisa Kuliah Gratis di UGM

Ayahnya, almarhum Ismuni Sutrisno, dulunya bekerja sebagai tukang fotokopi rumahan di daerah Kota Yogyakarta.

Ia meninggal dunia pada 2021 lalu tepat di usia 67 tahun karena menderita penyakit diabetes sejak Febi masih kecil. 

Sejak ayahnya sakit, keluarga ini memilih pindah rumah ke perkampungan di Godean.

Sang ibu pun mengambil alih peran sebagai pencari nafkah tunggal keluarga. 

Walaupun terkendala secara finansial, semangat belajar Febi tak pernah luntur. 

Selama bersekolah di SMA Negeri 7 Yogyakarta, Febi aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti OSIS, Peleton Inti, panitia teater, kegiatan sosial, hingga classmeeting. 

Dia juga menjadi bagian dari Forum Anak Kabupaten Sleman. 

Di tengah kesibukannya, Febi tetap mampu menjaga prestasi akademiknya. Ia kerap masuk lima besar di kelasnya dan saat SMA masuk peringkat 7 eligible di jurusannya. 

“Kebetulan saya memang suka belajar dan memasak. Walau uang saku saya hanya Rp5.000 sampai Rp7.000 per hari, saya selalu berusaha mengatur sebaik mungkin. Biasanya saya diantar ibu naik motor ke sekolah, pulangnya naik TransJogja,” kenangnya, Kamis (12/6/2025).

Meski terbiasa hidup sederhana Febi memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin dan bercita-cita menjadi dosen atau terjun langsung ke pemerintahan. 

Karena itulah ia mantap memilih Program Studi Politik dan Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.

“Ketertarikan saya pada isu-isu sosial dan politik sudah sejak lama muncul. Saya ingin punya peran di masyarakat dan ikut membuat perubahan lewat jalur kebijakan atau pendidikan,” ucap Febi dengan penuh semangat.

Sang ibu, Siti, dengan mata berkaca-kaca, mengaku sangat bangga dengan Febi yang sedari kecil dikenal selalu mandiri dan semangat dalam belajar. 

Ia menyebutkan sejak di bangku SD, Febi sudah langganan juara tiga besar di kelas. 

Siti merasa bersyukur Febi bisa melanjutkan kuliah dengan bantuan beasiswa dari UGM. 

"Saya cuma bisa mendoakan agar dia tetap semangat dan tidak menyerah. Saya tahu dunia kuliah tidak mudah, tapi saya percaya dia bisa,” katanya dengan penuh haru.

Keberhasilan Febiyanti masuk ke UGM tanpa tes dan kuliah gratis melalui beasiswa UKT Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen bisa menjadi penyemangat bagi anak muda lainnya tengah berjuang menggapai mimpi bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah bisa membatasi cita-cita, selama semangat dan tekad tetap menyala. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved