Benarkah Alun-alun Kidul Akan Ditutup? Sri Sultan HB X: Tanya Mangkubumi
Sultan mengakui bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan teknis kawasan Alun-alun Kidul.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan belum mengetahui secara pasti rencana penutupan Alun-alun Kidul, menyusul kebijakan serupa yang telah diterapkan pada Alun-alun Utara.
Isu ini juga mencuat bersamaan dengan pembatasan akses di kawasan Plengkung Gading, yang telah lebih dulu ditutup sejak beberapa waktu terakhir.
Sultan mengakui bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan teknis kawasan Alun-alun Kidul.
Pengelolaan dan kebijakan operasional kawasan tersebut disebutnya berada di bawah kewenangan internal Keraton, khususnya Penghageng Keraton Yogyakarta.
"Nggak ngerti yo, Mangkubumi itu mungkin. Sing ngurusi dudu aku e kuwi," tutur Sultan, merujuk pada Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, putri sulungnya yang menjabat sebagai Penghageng Datu Dana Suyasa.
Baca juga: Tak Ada Larangan, Keraton Yogyakarta Pastikan Alun-alun Kidul Bisa Digunakan untuk Salat Ied
Terkait kemungkinan adanya kaitan penutupan dengan program penataan Sumbu Filosofi - proyek besar yang saat ini tengah digalakkan untuk memperkuat warisan budaya Yogyakarta sebagai kota warisan dunia - Sultan juga menyatakan belum memperoleh informasi rinci.
"Kalau direnovasi mungkin ya, tapi nggak tahu, tanya yang bersangkutan," ujarnya.
Sekadar informasi, Sumbu Filosofi Yogyakarta telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia (World Heritage).
Penetapan ini dilakukan dalam Sidang ke-45 Komite Warisan Dunia di Riyadh, Arab Saudi, pada 18 September 2023.
Sumbu Filosofi adalah konsep tata ruang imajiner yang menghubungkan Tugu Pal Putih, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak, yang memiliki nilai penting secara universal.
Sumbu Filosofi adalah garis imajiner yang menghubungkan beberapa landmark penting di Yogyakarta: Tugu Pal Putih, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak.
Garis imajiner ini memiliki makna filosofis dan simbolis yang dalam, menggambarkan perjalanan siklus hidup manusia berdasarkan konsep "Sangkan Paraning Dumadi".
Adapun UNESCO mengakui Sumbu Filosofi sebagai Warisan Dunia karena dianggap memiliki nilai universal luar biasa bagi umat manusia. Sumbu Filosofi dianggap sebagai bukti perpaduan nilai dan gagasan penting antara berbagai sistem kepercayaan.
Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah DIY, Tri Saktiyana, menyebutkan bahwa pelaksanaan salat Idulfitri yang biasanya digelar di Alun-alun Kidul telah dikoordinasikan dengan Panitia Hari Besar Islam (PHBI).
"Untuk salat ied itu kami sampaikan ke PHBI, panitia hari besar Islam," ujarnya.
Adapun jika penutupan Alun-alun Kidul benar dilakukan, Tri belum dapat memastikan lokasi alternatif untuk kegiatan publik di kawasan tersebut.
"Saya tidak bisa komentar soal itu, tapi yang jelas pasti ada alternatif-alternatif yang lain," tandasnya.
Alun-alun Kidul (Alkid)
Sri Sultan HB X
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Gubernur DIY
GKR Mangkubumi
Tribunjogja.com
| DPW PKB DIY Silaturahim ke Wagub DIY, KGPAA Paku Alam X: Wujudkan Warga DIY yang Teredukasi |
|
|---|
| Hadapi Keterbatasan Fiskal, Ini Instruksi Sri Sultan HB X untuk ASN DIY |
|
|---|
| Sri Sultan HB X Minta Pemerintah Pusat Dukung Sektor Unggulan dan Selaraskan Proyek Strategis di DIY |
|
|---|
| Sri Sultan HB X Akui Kemiskinan dan Ketimpangan Wilayah Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pemda DIY |
|
|---|
| Pemkab Bantul Sambut Baik Usulan GKR Mangkubumi Soal Menghidupkan Kembali Jalur Kereta Api |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Benarkah-Alun-alun-Kidul-Akan-Ditutup-Sri-Sultan-HB-X-Tanya-Mangkubumi.jpg)