Manfaatkan Danais, Kalurahan Bendung Gunungkidul Siap Hilirisasi Pangan Lewat Lumbung Mataraman 

Saat itu, Kalurahan Bendung mendapatkan suntikan dana keistimewaan (Danais) sebesar Rp750 juta. 

Dok.Istimewa
LUMBUNG MATARAMAN - Pengunjung Agroeduwisata Lumbung Mataraman Semin melihat proses pengembangan pertanian, beberapa waktu lalu 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kalurahan Bendung, yang terletak di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap mewujudkan hilirisasi pangan dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal melalui program Lumbung Mataraman.

Pengembangan Lumbung Mataraman dimulai pada 2022 lalu.

Saat itu, Kalurahan Bendung mendapatkan suntikan dana keistimewaan (Danais) sebesar Rp750 juta. 

Lurah Bendung, Didik Rubiyanto, mengatakan Lumbung Mataraman di wilayahnya memiliki konsep kalurahan mandiri dengan sistem pola pertanian terpadu antara tanaman pangan, holtikultura, sayur mayur , dan juga Peternakan.

"Ternyata, konsep ini berjalan menjadi wahana belajar pertanian yang dikemas dalam Agroeduwisata. Dan, dari konsep ini banyak daerah lain yang tertarik untuk belajar. Pada 2022 saja,  tercatat sebanyak 15 ribu pengunjung datang ke Lumbung Mataraman Semin," terangnya.

Didik mengatakan  pengembangan Lumbung Mataraman dan Desa Wisata, membuat pertumbuhan ekonomi di masyarakat, ditandai dengan munculnya UMKM dan sektor ekonomi yang lain.

"Hal inipun membuat Kalurahan Bendung  yang dulunya kalurahan  tertinggal dan miskin, dengan adanya  Lumbung Mataraman bisa menjadi desa wisata, desa preneur, hingga desa mandiri," ucapnya.

Suksesnya pengelolaan dana keistimewaan tersebut, membuat Kalurahan Bendung kembali dipercaya mendapatkan suntikan dana sekitar Rp1 miliar untuk menjadi desa prima, pada 2023 lalu. 

Kemudian pada 2024, wilayah ini kembali mendapatkan suntikan dana keistimewaan sebesar Rp750 juta yang diberikan lewat Dinas Pariwisata Gunungkidul.

"Dan, pada tahun ini kami kembali dipercaya mendapatkan bantuan dana keistimewaan sebesar Rp2,5 miliar lewat Dinas Kebudayaan DIY," ujarnya.

Dia melanjutkan dengan gelontoran dana tersebut, pihaknya pun optimis bisa mewujudkan hilirisasi pangan di wilayahnya.

Dia menjelaskan konsep hilirisasi pangan lewat Lumbung Mataraman yang akan dijalankan dengan integrasi antar lembaganya.

"Artinya, lembaga akan saling terintegrasi antar lembaganya, mulai dari Gapoktan, BumDes, Desa Preneur, Desa Wisata, hingga Koperasi Merah Putih," terang dia.

Dia menuturkan dengan terintegrasinya antara lembaga ini, maka hasil produk pertanian yang dihasilkan oleh kelompok wanita tani (KWT)  atau masyarakat setempat bisa dibeli oleh BumDes.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved