Manfaatkan AI, PLAI BMD Kembangkan Inovasi SANTUN Hilangkan Konten Negatif

Aplikasi SANTUN  memang tidak bertujuan bisnis semata, melainkan berlandaskan aspek sosial dan religius.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA/Istimewa
AKAL IMITASI - PLAI BMD mengembangkan aplikasi SANTUN untuk menghilangkan konten negatif 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Politeknik Artificial Intelligence Budi Mulia Dua (PLAI BMD) berkomitmen memanfaatkan dan mengembangkan artificial intelligence atau akal imitasi (AI) untuk memberi kontribusi sosial dan membangun peradaban bangsa. 

Diketahui, perkembangan kecerdasan buatan semakin pesat belakangan ini. 

Namun, di Indonesia belum banyak yang memanfaatkan AI untuk hal-hal substantif, sekadar mementingkan aspek komersial dan hiburan semata, bahkan memproduksi  konten negatif.

Hal ini ditunjukkan salah satunya melalui pengembangan aplikasi SANTUN, sebuah aplikasi percakapan yang mampu mengoreksi bahasa bahkan mencegah hoaks dan konten negatif.

Aplikasi SANTUN lahir dari keresahan dan keprihatinan Direktur PLAI BMD, Ridho Rahmadi saat kerap menerima pesan dari anak-anak muda dan mahasiswanya di aplikasi percakapan populer. 

Selain itu, di aplikasi tersebut juga amat mudah mengirim hoaks, video porno, dan konten negatif lainnya. 

Saat itu, Ridho sedang menimba pendidikan doktoral di bidang data science and machine learning di Universitas Radboud, Belanda.

“Pesan-pesan di aplikasi percakapan itu menunjukkan kualitas berbahasa anak muda kita menurun. Bahasanya disingkat-singkat, sehingga sopan santun ke orang tua, guru, dan dosen juga hilang. Ada pula kejadian terjadi salah paham dari teks yang disingkat-singkat itu,” paparnya di Kampus PLAI BMD, di Jalan Raya Tajem Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DIY, Selasa (3/6/2025). 

Padahal, menurut Ridho, ada ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. 

Dengan menurunnya kualitas berbahasa itu, ia khawatir karakter bangsa Indonesia yang menekankan sopan santun  dan hormat kepada orang yang lebih tua  melalui bahasa juga ikut memudar.

“Dari ide itu kami kembangkan sebuah aplikasi bernama SANTUN. Jadi ketika pengirim mengetik “ass”  bisa langsung berubah menjadi “assalamualaikum”, menulis “slmt pg” otomatis jadi “selamat pagi”. Penulisan singkatan akan terkirim lengkap,”  tuturnya.

Inovasi aplikasi SANTUN telah melalui riset akademik.

Lebih jauh lagi, setelah dikembangkan tim PLAI BMD yang terdiri praktisi dan pengajar AI andal, SANTUN dikembangkan untuk mampu mengantisipasi konten negatif.

“Misalnya mendeteksi hoaks dan men-delete video porno. Ini upaya untuk turut menghilangkan konten negatif yang merajalela,” kata dia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved