KISAH Abdul Latif Bangun Jogja Coding House untuk Ahli Coding dan AI di Yogyakarta

Sebuah kedai sekaligus working space bernuansa industrial berdiri di Jalan Singoranu, Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

|
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL HUDA
CODING - Abdul Latif saat mengenalkan Jogja Coding House kepada komunitas siber Jogja, Jumat (9/5/2025). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebuah kedai sekaligus working space bernuansa industrial berdiri di Jalan Singoranu, Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Sekilas bangunan itu tampak seperti tempat nongkrong pada umumnya. Namun siapa sangka jika di baliknya ada sosok talenta coding dan Artificial Intelligence (AI) asli Yogyakarta.

Dialah Abdul Latif Ikhlashul Mukmin, seorang pemuda yang memiliki mimpi besar membangun ekosistem coding nasional lebih berani bersaing ditingkat internasional.

Selama ini menurut pria yang akrab disapa Abdul menilai, para ahli coding dan AI Indonesia masih kalah bersaing dengan Vietnam.

Padahal secara populasi, Indonesia jauh lebih banyak dari Vietnam, secara kapasitas kemampuan juga talent coding dan AI sama dengan mereka yang berasal dari Vietnam dan India.

Berangkat dari keresahan itu, dia akhirnya membangun Jogja Coding House (JCH) by Coding Collective.

Sebuah tempat pengembangan para talent coding dan AI untuk berkolaborasi membangun ekosistem industri.

"Tapi kemana para talent kita? Nah, kami ingin ajari mereka, connecting dengan industrial, saya asli Jogja ingin mengembangkannya," katanya, di sela-sela opening JCH, Jumat (9/5/2025).

Lulusan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini menilai, kendala bahasa menjadi alasan mengapa ahli coding dan AI asal Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam dan India.

Karena keterbatasan komunikasi itu lah mereka sulit mendapatkan relasi perusahaan dari luar negeri, baik itu berkaitan project siber security atau pengembangan coding dan AI lainya.

"India mereka pakai bahasa Inggris menjadi bahasa kedua, Vietnam di sana bahasa Inggris jadi bahasa kedua," ujarnya.

Menurut Abdul saat ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan pengembangan talenta coding dan AI.

"Waktu di Dubai saya mulai menjalin partnership. Jogja ini punya keuntungan strategis. Banyak lulusan IT yang bagus, tinggal bagaimana mengkolaborasikan," jelasnya.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, banyak sekali perusahan-perusahan luar negeri yang membutuhkan talenta coding dan AI.

Kalah dari India dan Vietnam

Sayangnya hanya sebagian kecil talenta coding dan AI asal Indonesia yang kebagian project tersebut.

"Kebanyakan memang dari India dan Vietnam. Di JCH kami ada coding class, kita kokaborasi dengan Jogja Cyber Community. Kita kolaborasi tumbuh bersama. Dari Jogja untuk dunia," terang Abdul.

Dia tidak memungkiri bahwa Indonesia kalah start dengan Vietnam dan India dalam hal menyiapkan SDM unggul didunia coding dan AI.

Untuk itu dia turut mendukung rencana pemerintah menerapkan kurikulum pembelajaran coding dan AI bagi sekolah-sekolah tertentu.

Dia menilai hal ini sangat positif untuk ke depannya, ditengah persaingan talenta coding dan AI yang semakin terbuka.

"Memang harus dimulai dari dunia pendidikan. Rencana kurikulum coding cukup bagus, tetapi juga siapkan ekosistem industrinya," ungkapnya.

Abdul mengungkapkan talenta coding dan AI asal Indonesia sangatlah mahir, tetapi minim koneksi.

"Mereka pintar-pintar tapi gak punya koneksi, akhirnya sulit berkembang. Makanya JCH mencoba menjembatani mereka. Tadi baru dibuka sudah ada dua yang connect," pungkasnya. 

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved